Lebaran di Pengungsian Lebanon, Tanpa Kue dan Pakaian Baru

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Di sepanjang pesisir barat Sidon, sekitar 40 kilometer selatan Beirut, deretan tenda darurat berdiri menghadap Laut Mediterania. Dinding kainnya berkibar tertiup angin, sementara di dalamnya keluarga pengungsi bertahan hidup di atas kasur tipis, dengan barang-barang seadanya yang disimpan dalam kantong plastik.

Tidak ada aktivitas sekolah bagi anak-anak. Mereka mengisi waktu dengan menempelkan potongan kertas warna-warni di dinding tenda. Hiasan sederhana itu menjadi pengganti dekorasi yang dulu menghiasi rumah mereka di selatan Lebanon. Bagi para pengungsi, Idulfitri tetap datang meski dalam kondisi yang jauh berbeda dari sebelumnya.

“Hari Raya Idul Fitri akan tetap ada, dan kami akan merayakannya walaupun segala sesuatu di sekitar kami telah berubah,” kata Raeda Qabalan, pengungsi asal Mays al-Jabal, wilayah yang berada dekat perbatasan Israel dan terdampak konflik, dikutip Holopis.com, Minggu (22/3).

Situasi ini menjadi gambaran Lebaran bagi jutaan warga yang mengungsi di Lebanon. Tidak ada pakaian baru, tidak ada hidangan khas hari raya, hanya suasana penuh ketidakpastian di tempat penampungan sementara.

Lebih dari satu juta orang dilaporkan mengungsi setelah meningkatnya operasi militer Israel di wilayah selatan dan timur Lebanon. Warga dari desa-desa perbatasan terpaksa meninggalkan rumah mereka dan berpindah ke sekolah, daerah pegunungan, hingga kamp-kamp tenda di pesisir.

Gelombang pengungsian terbaru terjadi sejak awal Ramadan. Banyak keluarga menjalani bulan suci hingga Idulfitri di tempat penampungan darurat. Di salah satu tenda di Sidon, Mohammad Sobeh (10) menggambar rumahnya yang hancur akibat serangan udara.

- Advertisement -

“Begini rupa rumah kami sebelum serangan,” katanya. “Dulu kami merayakan Idul Fitri di sana.”

Adiknya, Sarah (7), mengenang tradisi yang kini tidak lagi bisa dilakukan.

“Dulu kami biasa membuat kue Idul Fitri bersama nenek,” ujarnya.

Kini, keluarga tersebut sepenuhnya bergantung pada bantuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kisah serupa juga disampaikan Samia al-Abdallah dari Kfar Kila. Ia menceritakan kondisi cucunya yang kesulitan membedakan suara ledakan dan guntur.

“Dia bahkan bertanya bagaimana kami akan membangun kembali rumah kami dan membeli pakaian baru,” katanya.

“Yang kami harapkan hanyalah agar perang berhenti sehingga kami dapat kembali ke rumah dan tanah kami,” lanjut Samia.

Di wilayah pegunungan seperti Beiteddine, sejumlah pengungsi tinggal di ruang kelas yang dijadikan tempat tinggal sementara. Meski lokasinya berbeda dari kamp tenda, kondisi yang dirasakan tetap sama.

Samira Srour, ibu tiga anak, menyebut anak-anaknya masih mengingat kebiasaan lama saat Lebaran.

“Dahulu mereka biasa menunggu momen Idul Fitri untuk membeli pakaian baru dan mainan,” katanya.

Konflik juga memisahkan banyak keluarga. Tradisi berkumpul yang biasanya menjadi inti perayaan Lebaran kini tidak lagi dapat dilakukan.

“Dahulu, Idul Fitri menyatukan keluarga,” kata Dawoud Ayash (70).

Bagi banyak pengungsi, kondisi ini bukan pertama kali mereka alami. Sejak konflik meningkat pada Oktober 2023 hingga gencatan senjata rapuh pada akhir 2024, banyak warga telah beberapa kali mengungsi. Sebagian dari mereka bahkan baru mulai membangun kembali rumah sebelum kembali kehilangan tempat tinggal. Situasi ini membuat Idulfitri tahun ini terasa berbeda bagi para pengungsi.

“Ini perang yang tidak masuk akal. Perang ini telah merampas kegembiraan hari raya, dan banyak hal lainnya,” imbuhnya.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Darin Brenda Iskarina
Darin Brenda Iskarina
Tim Redaksi :

Berita Lainnya

YANG BARU