Ramadan Usai, MUI Ajak Umat Konsisten Jaga Ibadah dan Kebersamaan

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Muhammad Cholil Nafis, mengajak masyarakat menjaga nilai-nilai ibadah dan kebersamaan yang telah dibangun selama bulan suci.

Pernyataan tersebut disampaikan Cholil Nafis usai konferensi pers sidang isbat penentuan 1 Syawal 1447 Hijriah di Jakarta, Kamis (19/3/2026).

“Dalam waktu singkat ini mari kita pelihara kebersamaan kita selama di bulan Ramadan yang kondusif dengan ibadah dan kekhusukan kita dan kita pelihara di 11 bulan berikutnya,” ujar Cholil Nafis, dikutip Holopis.com, Jumat (20/3/2026).

Menurutnya, Ramadan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan proses pembentukan karakter, termasuk dalam hal pengendalian diri dan pola hidup sederhana. Ia menekankan pentingnya menjaga kebiasaan hidup efisien yang telah dilatih selama berpuasa.

“Pertama, kehidupan yang efisien, bagaimana kita ini melatih diri, bagaimana kita tidak berlebihan mengkonsumsi. Yang halal pun kita tidak makan, apalagi yang haram,” katanya.

Selain itu, ia mengingatkan bahwa kewajiban zakat tidak berhenti pada Ramadan semata. Zakat fitrah dan zakat mal menjadi instrumen penting dalam memperkuat solidaritas sosial di tengah masyarakat.

- Advertisement -

“Mari kita lanjutkan di 11 bulan berikutnya. Pada bulan akhir Ramadan ini ada kewajiban zakat fitrah bagi kita, bagi tubuh kita dan juga yang punya harta satu tahun juga berzakat,” ujarnya.

Cholil juga menekankan pentingnya budaya berbagi sebagai refleksi keimanan.

“Maka biasakan kita berbagi di antara kita, karena bagi kita yang mu’min, orang bersedekah itu bukti kalau kita beriman,” ucapnya.

Ia menilai, konsistensi dalam menjaga kebiasaan baik pasca-Ramadan menjadi indikator diterimanya ibadah oleh Allah SWT.

“Menjaga kebiasaan kita di bulan Ramadan, diteruskan pada 11 bulan berikutnya, menunjukkan bahwa Ramadan kita ini diterima oleh Allah SWT,” katanya.

Dalam konteks penetapan Idulfitri, Cholil Nafis juga mengingatkan masyarakat untuk menjaga ketenangan dan tidak memperkeruh suasana dengan perbedaan pengumuman di ruang publik.

“Kita berharap ke depan ini karena kita banyak paham yang punya keyakinan masing-masing silakan mengumumkan (Lebaran), tapi tidak perlu mengumumkan ke luar biar masyarakat itu tidak gundah dan menunggu pada keputusan pemerintah,” ujarnya.

Sementara itu, pemerintah melalui Menteri Agama menegaskan bahwa sidang isbat merupakan bentuk fasilitasi negara dalam menentukan awal bulan qamariyah, khususnya yang berkaitan dengan ibadah umat.

“Dalam penentuan awal bulan qomariyah terutama bulan yang di dalamnya terdapat ibadah dan hari raya besar Islam yang menyangkut hajat hidup orang banyak, negara memfasilitasi dengan menyelenggarakan sidang isbat sebagai bentuk keterlibatan ulil amr atau pemerintah,” ujarnya.

Berdasarkan hasil hisab serta tidak adanya laporan hilal terlihat, pemerintah menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Khoirudin Ainun Najib
Khoirudin Ainun Najib
Tim Redaksi :

Berita Lainnya

YANG BARU