HOLOPIS.COM, JAKARTA – Salah satu tersangka kasus dugaan pencemaran nama baik Joko Widodo, Tifauzia Tyassuma menjawab intrik yang dilakukan sejumlah kalangan dari kelompoknya sendiri yang tengah menuduh ijazah S1 Joko Widodo palsu.
Dalam sebuah postingannya di akun media sosial pribadi @DokterTifa, ia menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak seperti yang dituduhkan, yakni mengikuti jejak Rismon Hasiholan Sianipar yang memilih menemui Joko Widodo dan memohon restorative justice dari Presiden RI ke 7 tersebut.
“Dr Tifa tidak kemana-mana. Ternyata absennya saya pada beberapa acara menimbulkan rumors dan spekulasi luar biasa dalam beberapa hari,” tulis Dokter Tifa di akun X pribadinya, seperti dikutip Holopis.com, Kamis (19/3/2026).
Salah satu yang mengintrik dirinya adalah Ahmad Khozinudin, di mana ia disinyalir sedang menuju menjadi ternak geng Solo melalui kanal Facebooknya.
“Yang saya perhatikan utamanya berasal dari seorang Pengacara yang membuat postingan spekulasi bahwa ada salah satu tersangka yang berangkat menjadi Termul. Akibat postingan yang tidak bertanggung jawab tersebut, publik gelisah dan menduga-duga,” ujarnya.
Menjawab tudingan dan intrik tersebut, Tifa menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak ingin melakukan aksi seperti yang dilakukan Rismon.
Justru ia memilih untuk jeda sejenak dari seluruh aktivitasnya di pergerakan itu, dengan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan, apalagi di 10 hari terakhir bulan suci Ramadan.
“10 hari terakhir Ramadhan, seperti rutinitas selama ini, betul-betul saya manfaatkan untuk iktikaf, sehingga bertubi-tubi undangan TV dan Media, juga beberapa Acara, tidak saya hadiri. Akhirnya, beredarlah spekulasi bahwa saya diam-diam ke Solo menghadap raja Jawa untuk mengharapkan pengampunan,” paparnya.
Sepanjang beberapa hari terakhir ini, Tifa mengaku masih berada di Jakarta Selatan. Bahkan dirinya juga masih disibukkan dengan agenda tesisnya di Universitas Indonesia (UI) Salemba.
“Saya aman sentosa di seputaran Jaksel, mondar-mandir dari rumah ke kampus Salemba mengurus Riset S3. Bukan ke Balige atau Samosir, apalagi ke Solo. Adapun di hari-hari akhir Ramadhan saya memilih menarik diri sejenak. Ramadhan mengajarkan untuk menenangkan hati, menjernihkan pikiran, dan melihat persoalan dengan lebih utuh. Namun ada hal yang tidak bisa saya abaikan,” jelas Tifa.
Pun dia memilih untuk menenangkan diri dan meresapi agenda spiritualitasnya di akhir bulan suci Ramadan, Tifa mengaku masih tetap mencermati dinamika yang terjadi.
Ia menangkap sebuah kesimpulan bahwa terjadi praktik bagaimana kekuasaan, bahkan setelah tidak lagi menjabat, masih digunakan untuk menekan dan menghancurkan lawan politiknya. Dan itu menurutnya dilakukan oleh Joko Widodo.
“Cara-cara yang digunakan tidak lagi mencerminkan etika seorang negarawan, tetapi lebih menyerupai praktik kekuasaan yang mempertahankan diri dengan mengorbankan orang lain. Akademisi menjadi sasaran. Reputasi dihancurkan,” tukasnya.
“Padahal persoalan ini sesungguhnya sangat sederhana. Jika memang tidak ada yang disembunyikan, cukup tunjukkan saja. Di mana pun. Di depan publik, di pengadilan, bahkan di ruang yang paling sederhana sekalipun. Sederhana,” lanjut Tifa.
Jika cara yang paling sederhana itu ternyata tidak diambil oleh Joko Widodo, dan memilih untuk terus menciptakan counter attack dan memperpanjang keributan, Tifa merasa bahwa memang ijazah tersebut patut diduga sangat kuat bermasalah.
“Yang terjadi justru sebaliknya. Masalah yang sederhana dipelihara menjadi rumit, memakan energi bangsa, dan menguras perhatian publik. Saya melihat sendiri bagaimana negeri ini mulai lelah.
Rakyat jenuh. Energi kolektif terkuras untuk sesuatu yang seharusnya bisa diselesaikan dengan kejelasan,” ungkapnya.
Masih dalam perenungan dan peresapannya sejauh ini, ada sisi lain yang juga tidak kalah menarik, di mana menurut Tifa, aparat penegak hukum berada dalam posisi yang tidak mudah.
“Ada ruang-ruang kosong yang sulit diisi, ada celah-celah yang menyulitkan pembuktian. Namun saya tetap menaruh harapan pada profesionalisme, terutama pada mereka yang masih bekerja dengan integritas,” tuturnya.
Ada yang Cari Keuntungan Finansial
Dari kegaduhan soal ijazah yang semakin meruncing dan seperti tiada akhir tersebut, Tifa melihat bahwa ada pihak-pihak tertentu yang ingin ikut menikmati gurihnya rupiah. Pilihan itu diambil dengan cara menjadi bagian dari bala bantuan dan backup naratif demi melindungi Joko Widodo dari isu ijazah S1 Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) itu.
“Yang juga memprihatinkan adalah munculnya para Termul pengiring kepentingan yang menjadikan situasi ini sebagai ladang keuntungan.
Bukan mencari kebenaran, tetapi mencari peluang. Mereka memperbesar masalah, bukan menyelesaikannya. Ironisnya, kondisi ini justru mengganggu jalannya pemerintahan yang sedang berupaya membangun kembali negeri ini. Saya tidak ingin terjebak dalam pusaran itu,” tandasnya.
Oleh sebab demikian, Dokter Tifa menegaskan bahwa dirinya akan tetap berada di posisi yang sama, yakni memperkarakan ijazah Joko Widodo seperti apa yang telah selama ini diperjuangkannya bersama Roy Suryo Cs.
“Dengan izin Allah, dan dengan dukungan banyak pihak yang masih percaya pada kebenaran, saya akan tetap berdiri. Tanpa jalan pintas. Tanpa kompromi yang merendahkan martabat. Tanpa memilih cara-cara yang tidak terhormat,” tegasnya.
“Perjuangan ini mungkin tidak mudah. Namun saya percaya, kebenaran tidak membutuhkan keramaian, ia hanya membutuhkan keteguhan. Dan saya memilih untuk tetap teguh,” pungkas Dokter Tifa.


