HOLOPIS.COM, JAKARTA – Ketegangan militer di Timur Tengah terus meningkat setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim menyerang kapal induk milik Amerika Serikat (AS), USS Abraham Lincoln, menggunakan empat rudal balistik. Iran siap jalani fase baru perang melawan keroyokan AS-Israel.
Melalui pernyataan resmi dalam Operasi ‘True Promise 4’, IRGC menyebut serangan tersebut sebagai bagian dari fase baru konfrontasi militer melawan AS dan Israel.
“Konfrontasi telah memasuki fase baru, dan darat maupun laut akan menjadi kuburan bagi para agresor teroris,” demikian pernyataan IRGC dikutip dari WANA, Senin, (2/3/2026).
Namun, klaim itu langsung dibantah oleh United States Central Command (CENTCOM). Pihak militer AS menegaskan bahwa rudal yang diluncurkan Iran tak mengenai target yang dimaksud.
“Rudal-rudal itu bahkan tidak mendekati USS Abraham Lincoln, yang tetap melanjutkan operasi udara untuk mendukung serangan terhadap Iran,” demikian pernyataan CENTCOM yang dikutip dari Anadolu.
Konflik Meluas ke Negara Teluk
Insiden ini terjadi saat operasi militer gabungan AS dan Israel terhadap Iran memasuki hari kedua sejak diluncurkan pada Sabtu. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sejumlah pejabat senior Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Sebagai balasan, Teheran tak tinggal diam dengan melancarkan serangan drone dan rudal ke berbagai aset militer AS. Pun, pangkalan militer AS di negara-negara Teluk juga disasar Iran.
Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab menyatakan hingga Minggu sore pihaknya telah mencegat sedikitnya 165 rudal balistik, dua rudal jelajah, dan 541 drone yang diluncurkan Iran.
Di Bahrain, warga melaporkan serangkaian ledakan keras yang diduga berkaitan dengan serangan udara.
“Terbangun oleh ledakan besar dan sirene yang melengking. Saya mendengar sekitar 20 dentuman. Setidaknya dua kali terjadi serangan,” tulis seorang warga melalui pesan singkat.
Laporan awal menunjukkan bahwa Iran tak hanya menargetkan fasilitas militer seperti markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain. Tapi, juga mulai menyasar infrastruktur sipil seperti bandara dan kawasan perkotaan di negara-negara Teluk.
Korban Jiwa di Pihak AS
Dalam perkembangannya, CENTCOM mengonfirmasi bahwa tiga personel militer AS tewas dan sejumlah lainnya mengalami luka-luka dalam operasi tempur terbaru.
“Beberapa mengalami cedera ringan akibat pecahan peluru dan gegar otak, dan saat ini dalam proses kembali bertugas,” demikian pernyataan resmi.
Pihak militer AS belum merinci waktu maupun lokasi insiden yang menyebabkan korban jiwa tersebut.
“Operasi tempur besar terus berlanjut dan upaya respons kami sedang berlangsung. Situasinya dinamis, sehingga kami akan menahan informasi tambahan hingga keluarga prajurit yang gugur diberitahu,” lanjut pernyataan itu.


