HOLOPIS.COM, JAKARTA – Kunjungan mendadak Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke Washington untuk bertemu dengan Presiden AS Donald Trump jadi sorotan luas. Agenda Netanyahu awalnya dijadwalkan 18 Februari tapi dimajukan satu pekan.
Mengutip laporan Iran International, Netanyahu yang terbang ke Washington lebih cepat karena merespons perundingan yang dilakukan AS dan Iran di Oman, beberapa hari lalu. Pemimpin kontroversial itu dinilai bakal mendesak Trump untuk berani memberlakukan batasan tegas pada program rudal balistik Iran.
Netanyahu juga menyoroti perlindungan dan dukungan Iran terhadap sejumlah kelompok pejuang yang melawan Israel. Urgensi kedatangan politikus 76 tahun itu Washington juga mencerminkan lebih dari sekadar kekhawatiran taktis langsung.
“Menunjukkan upaya yang lebih tegas oleh Israel untuk membentuk kebijakan AS daripada sekadar menyelaraskannya,” demikian laporan Iran International yang dikutip pada Rabu, (11/2/2026).
Trump sebelumnya berulang kali mengisyaratkan preferensinya untuk kesepakatan dengan Iran. Tapi, Netanyahu seperti sebaliknya karena waspada dengan negosiasi yang mungkin hanya berfokus pada masalah nuklir.
Pentolan Israel itu khawatir Trump mengabaikan apa yang dilihatnya sebagai potensi ancaman yang lebih luas dari Teheran.
Manuver Netanyahu juga terlihat saat putaran pembicaraan AS-Iran pada musim semi tahun 2025.
Meski saat itu, Trump optimis dengan pembukaan diplomatik dan menguraikan proposal nuklir prospektif, laporan menunjukkan Netanyahu sebaliknya. Dengan dalih tenggat Waktu berakhir, Israel Ketika itu menggandeng AS untuk menyerang Iran yang kemudian menjadi Perang 12 Hari pada Juni 2025.
Para pejabat Israel melaporkan Iran sejak itu berupaya memulihkan infrastruktur rudal balistik yang rusak. Pasca serangan itu, para pejabat Iran juga secara terbuka menunjukkan kemampuan rudal yang diperbarui dan ditingkatkan.
“Hal itu perkuat kekhawatiran Israel tentang kesiapan Teheran untuk mengerahkan kemampuan tersebut dalam konfrontasi di masa depan,” tulis laporan media itu.
Mengutip dari ABC News, Israel sudah lama menyerukan agar Iran menghentikan semua pengayaan uranium. Israel juga mendesak agar Iran mengurangi program rudal balistiknya, dan memutuskan hubungan dengan kelompok-kelompok militan di seluruh wilayah.
Tapi, Iran selalu menolak tuntutan itu. Alasan Iran bahwa hanya akan menerima beberapa batasan pada program nuklirnya sebagai imbalan atas pencabutan sanksi.
Terkait kedatangan Netanyahu di Washington, dlaporkan untuk mendorong Trump agar AS lebih kuat dalam negosiasi terhadap Iran. Upaya-upaya itu agak berhasil pada tahun lalu ketika AS bergabung dengan Israel dalam serangan selama 12 hari terhadap situs militer dan nuklir Iran.
Adapun kunjungan Netanyahu terjadi hanya dua pekan setelah utusan khusus Trump, Steve Witkoff, dan Jared Kushner, menantu Trump mendatangi Yerusalem. Lalu, para utusan AS itu mengadakan pembicaraan tidak langsung di Oman dengan menteri luar negeri Iran pada hari Jumat.
“Perdana Menteri percaya bahwa setiap negosiasi harus mencakup pembatasan rudal balistik dan mengakhiri dukungan untuk poros Iran,” demikian pernyataan kantor Netanyahu pada akhir pekan lalu dikutip dari ABC News.
Israel terus mempersoalkan kelompok militan yang didukung Iran seperti Hamas Palestina dan Hizbullah Lebanon.


