HOLOPIS.COM, JAKARTA – Pemerintah Indonesia terus memperkuat arus investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Terbaru, investasi China ke Indonesia kembali mengalir melalui 16 proyek strategis dengan nilai mencapai Rp36,4 triliun atau setara US,19 miliar.
Investasi jumbo tersebut merupakan bagian dari penguatan kerja sama Two Parks Twin Countries (TCTP), sebuah kerangka strategis yang dirancang untuk mempercepat kolaborasi industri, integrasi rantai pasok, serta peningkatan nilai tambah di dalam negeri.
Melalui skema TCTP, perusahaan-perusahaan asal Provinsi Fujian, China, menggandeng mitra Indonesia untuk menggarap berbagai sektor strategis. Proyek-proyek tersebut mencakup industri logam dasar, pengolahan daging dan makanan laut, tekstil, teh, furnitur, drone, baterai, hingga kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai, masuknya investasi dari negeri tirai bambu ini berpotensi besar mendorong industrialisasi, memperluas lapangan kerja, serta memperkuat struktur ekonomi nasional berbasis hilirisasi.
“Ke depannya, Indonesia menyambut baik kolaborasi yang lebih dalam di bidang infrastruktur, logistik, industri hilir, manufaktur, energi terbarukan, ekonomi digital, AI, komputasi kuantum, ketahanan pangan, kesehatan dan pengembangan sumber daya manusia,” jelas Airlangga dalam keterangan tertulis, dikutip Holopis.com, Senin (12/1/2026).
Airlangga menegaskan komitmen pemerintah dalam meningkatkan iklim investasi nasional melalui reformasi regulasi, pengembangan infrastruktur, serta konsistensi kebijakan. Langkah ini dilakukan untuk memastikan Indonesia tetap menjadi tujuan investasi jangka panjang yang menarik bagi investor global.
“Indonesia kini memiliki gugus tugas untuk mempercepat program-program strategis pemerintah yang akan membantu mempercepat proses investasi,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Airlangga menegaskan bahwa kerja sama antara Indonesia dan China bersifat terbuka serta menawarkan peluang besar bagi kedua negara, mengingat besarnya potensi pasar dan kekuatan ekonomi masing-masing.
Dia mengatakan, jumlah penduduk China menempati urutan kedua terbanyak di dunia, yakni sebanyak 1,4 miliar jiwa. Sementara Indonesia menempati urutan keempat, memiliki 285 juta jiwa. Di samping itu, keduanya merupakan anggota G20.
“Tiongkok adalah negara dengan ekonomi terbesar kedua dengan PDB US$ 17,8 triliun dan Indonesia memiliki PDB US$ 1,4 triliun. Jadi ini benar-benar merupakan tonggak penting bahwa kolaborasi dan kerja sama antara kedua negara terbuka,” tandas Airlangga.


