“Untuk itu, Budi Arie dan Projo akan berupaya menghilangkan semua hal yang terkait dengan Jokowi,” lanjut Jamil.
Kemudian, ia menambahkan pergantian logo dan sikap Budi Arie ingin gabung ke Gerindra tentu dilakukan secara sadar.
Menurut dia, hal itu dilakukan Budi Arie dengan kalkulasi politik yang matang dengan tujuan bisa tetap eksis dalam politik nasional.
“Sebagai seorang pragmatis, Budi Arie akan menikmati sebagai kutu loncat. Ia akan loncat dari satu tempat ke tempat lain selama menguntungkan secara politis,” sebut Jamil.
“Hal itu kiranya akan terus dilakukan Budi Arie. Ia akan berpindah perahu selama itu menguntungkan secara politis, bahkan ekonomis,” tutur Jamil.
Jamil menyebut dalam politik, ada karakter orang yang tak akan peduli dengan meninggalkan orang yang membesarkannya.
“Baginya, perahu itu hanya tempat persinggahannya. Ia akan singgah di perahu itu selama menguntungkannya secara politis. Ia akan tinggalkan perahu itu bila secara politis sudah tidak menguntungkannya,” ujar Jamil.
Jamil pun menyarankan agar Gerindra hati-hati jika benar Budi Arie bergabung sebagai kader.
“Karena itu, Gerindra harus berhati-hati dalam menerima Budi Arie. Jangan sempat Gerindra hanya dijadikan perahu sementara untuk mewujudkan ambisinya,” jelasnya.
Menurut dia, Budi Arie bisa saja nanti meninggalkan Gerindra. “Bisa jadi, Budi Arie nantinya akan meninggalkan Gerindra bila dinilainya sudah tak punya nilai jual. Nasib Gerindra nantinya akan sama dengan Jokowi, Budi Arie akan beganti perahu lagi,” tutur Jamil.

