HOLOPIS.COM, JAKARTA – Direktur Eksekutif Lingkar Madani (Lima) Ray Rangkuti mempertanyakan langkah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang mengaku telah melakukan penyelidikan dugaan korupsi dalam proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh sejak awal 2025.
Menurut Ray, pernyataan tersebut menambah bobot pembahasan terkait dugaan praktik korupsi dalam proyek tersebut, namun juga memunculkan sejumlah kejanggalan.
“Ada unsur lucunya. Lucunya tadi Pak Abraham sudah mengatakan mereka sudah melakukan penyelidikan sejak awal tahun 2025, kok sekarang mereka minta Pak Mahfud melaporkan, kan aneh. Ngapain lagi Pak Mahfud harus melaporkan? Mereka aja udah melakukan penyelidikannya kok,” kata Ray seperti dikutip HOLOPIS.COM dari channel Youtube Abraham Samad SPEAK UP pada hari Jumat (31/10/2025).
Ray menilai terdapat kemungkinan penyelidikan KPK tidak akan berjalan hingga menyentuh pihak-pihak yang berada pada tingkat pengambil kebijakan tertinggi. Ia khawatir penanganan kasus justru dilokalisir (tanpa menyentuh pelaku utama) hanya pada individu tertentu.
“Ya, itu sangat mungkin bisa terjadi (dilokalisir), dan umumnya akan selalu begitu, gak akan sampailah ke elite nya. Karena satu, kita gak pernah punya tradisi menghukum khususnya di level satu, dua RI kan. kalau menterinya sih udah banyak. Jadi gak punya tradisi, nah boleh jadi dilokalisir begitu aja,” ujarnya.
Dia kemudian mengatakan bahwa dirinya mempunyai dua kekhawatiran yang ditakutkan akan dilakukan oleh KPK sehingga mampu melokalisir tersangka dalam kasus dugaan korupsi Whoosh.
“Makanya tadi ada dua nih, pertama adalah bisa langsung ke penyelidikan. Ditetapkan tersangkanya siapa, terbatas disitu, dilokalisir. Dan yang kedua, justru untuk menyatakan gak ada apa-apa di Woosh itu,” terangnya.
Ray kemudian menyebut KPK seharusnya dapat mengusut tuntas kasus tersebut sebab ada sejumlah indikasi yang patut ditelusuri lebih jauh. Di antaranya keputusan memilih bekerja sama dengan China dibanding Jepang, pelibatan tenaga kerja asing, hingga penggunaan APBN sebagai jaminan meski sebelumnya dijanjikan bahwa proyek tidak akan menggunakan anggaran negara.
Selain itu, Ray juga menyoroti pembengkakan biaya proyek yang terjadi beberapa kali, baik saat perpindahan mitra kerja sama maupun setelah proyek berjalan.
“Setidaknya ada tiga pintu itu yang memungkinkan untuk memang diselidiki, ada petunjuk dan sebagainya. Jadi untuk di investigasi setidaknya dari tiga pintu ini. Nah kalau dilihat dari tiga pintu ini, ya Harap-harap cemas gitu” pungkas Ray Rangkuti.


