HOLOPIS.COM, JAKARTA – Ketika banyak negara berjuang menembus benteng pasar Eropa yang ketat, Indonesia justru mencatatkan kemenangan manis di Konfederasi Swiss. Bukan dari komoditas tradisional, melainkan dari karya para seniman dan inovator di sektor ekonomi kreatif.
Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) dan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Bern sedang merancang strategi besar untuk memperkuat posisi ini, menyusul data yang menunjukkan ekspor produk kreatif Indonesia ke Swiss mencapai $2.139 juta Dolar AS hingga kuartal III 2024.
Angka tersebut jauh melampaui impor sebesar $1.221 juta Dolar AS. Angka ini menghasilkan surplus yang menjadi bukti sahih daya saing produk buatan Indonesia di salah satu pusat keuangan terkaya di dunia.
Menteri Ekraf, Teuku Riefky Harsya, bertemu dengan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (Duta Besar) Republik Indonesia untuk Konfederasi Swiss dan Kepangeranan Liechtenstein Y.M.I Gede Ngurah Swajaya untuk menyusun langkah konkret dari program strategis Asta Ekraf. Fokus utamanya adalah klaster pasar ekraf, yang melihat Swiss bukan sekadar tujuan ekspor, tetapi juga mitra riset dan pengembangan talenta.
“Kolaborasi dengan Swiss tidak hanya memperkuat ekspor produk kreatif, tetapi juga membuka ruang bagi pertukaran pengetahuan, riset, serta pengembangan talenta kreatif,” ujar Menteri Riefky, menegaskan bahwa pasar dan talenta adalah dua pilar kunci pertumbuhan ekonomi kreatif nasional.
Bukan hanya perdagangan yang moncer, investasi Swiss di sektor kreatif Indonesia juga menunjukkan lonjakan dramatis. Dalam kurun tiga tahun (2023-2025), total investasi Swiss telah menembus angka $34,23 juta Dolar AS, dengan nilai tahunan di 2025 yang melonjak signifikan menjadi $14,34 juta Dolar AS.
Mempertegas ambisi ini, Duta Besar I Gede Ngurah Swajaya mengungkapkan rencana diplomatik yang akan membawa kekuatan kreatif Indonesia ke panggung paling bergengsi yaitu World Economic Forum (WEF) di Davos, Januari 2026.
Strategi ini memanfaatkan momentum Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) antara Indonesia dan European Free Trade Association (EFTA), yang mencakup Swiss.
“Kami akan memanfaatkan momentum World Economic Forum di Davos. Kami ingin dunia melihat bahwa Indonesia bukan hanya negara dengan kekayaan alam, tetapi juga dengan kekuatan inovasi dan ekonomi kreatif yang berkembang pesat,” tegas Dubes Swajaya.
Langkah ini menunjukkan pergeseran paradigma diplomasi ekonomi, di mana Indonesia kini percaya diri menjual inovasi kreatifnya di hadapan para pemimpin bisnis dan negara. Misi ini bukan hanya tentang menjual produk, tetapi tentang menanamkan citra baru Indonesia sebagai raksasa ekonomi kreatif yang siap bersaing di level global.

