JAKARTA – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengklaim bahwa kondisi saat ini memang sedang mengalami perlambatan ekonomi di Indonesia. Hal ini yang diduga menjadi salah satu gelombang pemicu mengapa ada keributan beberapa waktu yang lalu.
“Selama ini ada perlambatan ekonomi karena berbagai hal, dan keributan demo-demo itu sebetulnya karena sebagian masyarakat mungkin ngerasa ekonomi melambat dan tertekan, nah sekarang kita balikkan dengan cepat, dalam seminggu dua minggu pasti akan balik,” kata Purbaya usai dilantik sebagai Menkeu di Kabinet Merah Putih menggantikan Sri Mulyani Indrawati di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (8/9/2025).
Secara pribadi, ia juga merasa deg-degan setelah ditunjuk Prabowo Subianto menjadi Menkeu baru, apalagi ada tekanan dari Presiden agar dirinya segera melakukan lompatan-lompatan percepatan untuk menggenjot ritme ekonomi nasional saat ini.
“Saya deg-degan, berat banget. Tapi dia pikir, pokoknya Presiden cukup agresif itu,” ujarnya.
Pun demikian, mantan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) ini meyakini dengan semua pengetahuannya, pengalamannya serta kredibilitasnya dalam industri pasar tersebut berkeyakinan mampu melakukan percepatan-percepatan yang ditargetkan oleh Presiden Prabowo Subianto.
“Saya sudah 25 tahun jadi ekonom, 10 tahun lebih jadi ting-tengnya SBY, 5 tahun jadi komite ekonomi nasional, berapa tahun di KSP, terus membantu pak Jokowi juga adalah mengatasi krisis 2020, covid. Jadi saya di samping pak jokowi persis waktu itu,” tandasnya.
Maka dari itu, berbagai rentetan pengalamannya itu, ia memberikan keyakinan kepada publik agar jangan khawatir, kehadirannya akan memberikan dampak luar biasa bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Terlebih Purbaya menyatakan jika domestic demand Indonesia mayoritas hingga 90 persen.
“Jadi kalau anda tanya pengalaman saya apakah saya cukup tahu, amat tahu. Jadi anda nggak usah khawatir. Optimis, jadi masa depan kita akan cerah, domestic demand kita kuat asal kita kendalikan dengan baik kita bisa tumbuh dengan baik,” tegas Purbaya.
Lebih lanjut, peraih gelar Doktor (PhD) di bidang Ilmu Ekonomi diperoleh dari Purdue University, Indiana, Amerika Serikat tersebut mengingatkan jika target 8% pertembuhan ekonomi dalam tahun 2025 memang sangat sulit dicapai. Hanya saja persentase tersebut ia yakin dapat diraih dalam waktu dua hingga tiga tahun ke depan.
“Sebagai ekonom ya, tahun ini 8% mungkin agak sulit. 2 tahun 3 tahun ke depan ada peluangnya di sana,” ucapnya.
“Yang penting gini, kita balikin arah ekonomi yang melambat menjadi lebih cepat dulu, bisa ke arah 6% lebih dalam waktu yang tidak terlalu lama, habis itu kita bangun yang lain biar pertumbuhannya bisa lebih cepat lagi,” lanjut Purbaya.


