Di tengah ketidakpastian global, Indonesia justru menyimpan kekuatan besar yang belum digarap maksimal. Bagaimana PDB (pendapatan domestik bruto) mendekati Rp24.000 triliun. Selain itu populasi 280 juta jiwa yang ternyata didominasi oleh usia produktif. Adanya cadangan sumber daya alam nikel yang terbesar di dunia, ditambah juga emas, batu bara, migas, dan panas bumi.
Selain itu, posisi strategis di jalur dagang dan maritim internasional juga dianggap menjadi penompangnya. Termasuk soal bonus demografi yang menjadi terbesar di Asia Tenggara. Namun demikian, Haidar Alwi menekankan bahwa semua ini tidak berarti tanpa kedaulatan dalam pengelolaannya.
“Kita harus berhenti menjual mentah dan membeli mahal. Indonesia perlu mengelola sendiri kekayaan alamnya, dan membangun industrinya dengan percaya diri,” tegasnya.
Lima Gagasan Strategis untuk Membangun Arah Baru
Dalam mengelaborasi gagasan itu, Haidar Alwi mengusulkan lima langkah strategis untuk memperkuat pondasi ekonomi nasional. Pertama adanya dana pembangunan yang berbasis komoditas strategis. Dijelaskan Haidar Alwi, bahwa langkah ini bisa dilakukan dengan membangun cadangan nasional berbasis emas dan nikel untuk pembiayaan infrastruktur dan ketahanan energi.
“Komoditas bukan sekadar sumber devisa, tapi juga alat kedaulatan ekonomi,” tutur Haidar Alwi.
Kedua adalah pasar inovasi nasional yang berbasis karya anak bangsa. Dengan langkah ini, negara melalui instrumen pemerintahannya dalah mewujudkan pembiayaan secara inovatif dari valuasi kekayaan intelektual, agar penemu dan kreator bisa mengakses dana tanpa utang, tapi dengan menjual nilai gagasan secara adil dan transparan.
Ketiga adalah koperasi digital. Haidar Alwi menggarisbawahi bahwa koperasi digital ini untuk mendukung kepemilikan tambang dan hilir industri. Caranya adalah dengan melibatkan rakyat kecil dalam kepemilikan industri melalui platform digital koperasi nasional.
“Rakyat tidak lagi hanya sebagai konsumen, tapi juga pemilik aset negara,” terangnya.
Keempat adalah rupiah digital lokal yang digunakan untuk bertransaksi secara domestik. Karena sistem pembayaran digital lokal berbasis rupiah memang harus dikembangkan untuk mendukung kemajuan UMKM (usaha mikro kecil dan menengah), ekonomi desa, dan pasar tradisional, sehingga tidak selalu bergantung pada sistem rente global.
Dan yang kelima adalah pembaruan kurikulum ekonomi di sekolah menengah. Bagi Haidar Alwi, aspek ini sangat penting direspons oleh pemerintah agar anak muda dapat dibekali pemahaman ekonomi strategis sejak sekolah. Sebab, pendidikan ekonomi tak boleh berhenti di teori, tapi harus mengarah pada pemahaman geopolitik, industri, dan kebijakan fiskal.
“Negara tidak boleh hanya jadi kasir untuk kekuatan asing. Kita harus mulai jadi perancang masa depan kita sendiri,” tegas Haidar Alwi.
Di sisi lain, bagi Haidar Alwi, nasionalisme ekonomi bukan hanya sebatas retorika belaka. Ia hadir saat negara mendanai riset anak negeri, saat rakyat membeli produk lokal dengan bangga, dan saat sistem ekonomi dibangun atas dasar keadilan dan keberanian.
Maka dari itu, penting bagi semua elemen di Indonesia untuk merespons progresif usia Republik Indonesia ke 80 tahun, sehingga usia tersebut bukan menjadi akhir perjalanan, akan tetapi menjadi titik balik. Indonesia tidak kekurangan sumber daya, tidak kekurangan kecerdasan, dan tidak kekurangan sejarah kemenangan. Yang perlu kita bangun adalah keberanian untuk bertindak, dan kemauan kolektif untuk berdiri di atas kaki sendiri.
“Jika arah ini digenggam bersama, Indonesia tidak hanya akan selamat dari gejolak global, tapi akan menjadi poros ekonomi baru, bukan karena belas kasihan dunia, tapi karena kekuatan, kerja keras, dan kebijakan yang berpihak pada bangsa sendiri,” pungkasnya.


