JAKARTA – Presiden Haidar Alwi Care sekaligus Haidar Alwi Institute, Haidar Alwi, menilai nota kesepahaman (MoU) antara PT Perusahaan Mineral Nasional (PERMINAS) dengan mitra dari India di sektor logam tanah jarang (LTJ) merupakan langkah strategis bagi Indonesia.
Namun, ia mengingatkan agar kerja sama tersebut diikuti dengan transparansi, transfer teknologi, serta target hilirisasi yang terukur.
Menurut Haidar, kerja sama tersebut harus dimanfaatkan sebagai momentum untuk memperkuat kemandirian teknologi nasional, bukan sekadar memperluas kerja sama di sektor pertambangan.
“Abad ke-20 dimenangkan oleh negara yang menguasai energi. Abad ke-21 akan ditentukan oleh negara yang menguasai material strategis dan teknologi pengolahannya. Karena itu, kerja sama PERMINAS dan India harus dipandang sebagai bagian dari strategi besar Indonesia membangun kemandirian teknologi, bukan sekadar kerja sama sektor pertambangan,” kata Haidar Alwi dalam keterangannya, Rabu (8/7/2026).
Ia menjelaskan, meningkatnya kebutuhan dunia terhadap logam tanah jarang untuk industri kendaraan listrik, kecerdasan buatan (artificial intelligence), energi terbarukan, semikonduktor, robotika hingga industri pertahanan menjadikan komoditas tersebut sebagai salah satu mineral strategis masa depan.
Karena itu, menurut Haidar, PERMINAS sebagai BUMN yang diproyeksikan menjadi motor pengelolaan mineral strategis nasional perlu membangun kredibilitas melalui tata kelola yang terbuka dan akuntabel.
“Semakin strategis mandat sebuah institusi, semakin tinggi pula standar transparansi yang harus dipenuhi. Keterbukaan bukan sekadar kebutuhan administratif, melainkan bagian dari strategi membangun kepercayaan nasional terhadap agenda industrialisasi jangka panjang,” ujarnya.
Haidar menilai publik perlu mengetahui secara jelas arah pengembangan PERMINAS, mulai dari peta jalan, tahapan hilirisasi, hingga indikator keberhasilan yang ingin dicapai perusahaan dalam mengembangkan industri logam tanah jarang.
Menurutnya, transparansi juga akan memperkuat kepercayaan investor, memperluas kolaborasi dengan perguruan tinggi dan lembaga riset, serta mendukung pembangunan ekosistem industri mineral strategis di dalam negeri.
Lebih lanjut, Haidar mengingatkan Indonesia tidak boleh kembali mengulang pola lama yang hanya menjual bahan mentah, sementara penguasaan teknologi dan nilai tambah dinikmati negara lain.
Ia mengatakan nilai ekonomi logam tanah jarang justru berada pada kemampuan menguasai teknologi pemisahan unsur, pemurnian material, produksi logam khusus, hingga manufaktur magnet permanen yang menjadi komponen penting berbagai industri berteknologi tinggi.
Dalam konteks itu, Haidar menilai kerja sama PERMINAS dengan India harus dimanfaatkan untuk mempercepat alih teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, dan penguatan riset nasional.
“Sejarah menunjukkan bahwa negara yang kaya sumber daya belum tentu menjadi pemimpin industri. Yang menjadi pemimpin adalah negara yang mampu mengubah sumber daya menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi teknologi, dan teknologi menjadi kekuatan ekonomi. Karena itu, MoU PERMINAS dan India harus diikuti transparansi yang kuat, peta jalan yang jelas, agenda transfer teknologi yang nyata, serta target hilirisasi yang terukur agar Indonesia dapat bertransformasi dari pemilik cadangan logam tanah jarang menjadi salah satu pusat industri strategis dunia,” pungkasnya.


