JAKARTA – Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Pandjaitan menyoroti angka pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2025 yang tercatat sebesar 4,87 persen.
Dia mengakui, bahwa terjadi pelambatan pada awal tahun ini. Hal itu terlihat dari angka pertumbuhan yang sedikit lebih rendah dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya, yang berada di atas 5 persen.
Namun menurutnya, kondisi ini tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan. Sebab, kata dia, pelambatan yang terjadi merupakan hal yang wajar dan sudah pernah terjadi dalam periode transisi pemerintahan sebelumnya.
“Semua perlu tahu bahwa pola seperti ini bukan hal baru. Karena pada masa transisi pemerintahan 2014, kuartal pertama dan kedua juga tumbuh di bawah 5 persen,” kata Luhut melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, yang dikutip Holopis.com, Kamis (8/5).
Ia menjelaskan, bahwa masa transisi pemerintahan kerap diikuti dengan proses penyesuaian kebijakan dan program kerja baru. Dalam konteks ini, Luhut menyebut kontraksi konsumsi pemerintah menjadi salah satu faktor utama dari perlambatan ekonomi saat ini.
“Dalam masa penyesuaian seperti ini, perlambatan bisa terjadi. Salah satu faktor utama perlambatan saat ini adalah kontraksi konsumsi pemerintah,” jelasnya.
Untuk itu, percepatan belanja negara menjadi strategi kunci. Ia menyoroti Program Makan Bergizi (MBG) sebagai salah satu penggerak akselerasi fiskal yang mampu membawa dampak langsung pada sektor riil, terutama di daerah.
“Program Makan Bergizi menjadi salah satu motor penting untuk mengakselerasi belanja negara. Dampak nyata akan tercipta, salah satunya yaitu menghidupkan simpul ekonomi desa; petani sayur, peternak ayam, penjual telur, hingga pelaku UMKM lokal,” tegas Luhut.
Ia juga menegaskan, bahwa arah kebijakan Presiden Prabowo sudah sangat jelas, yakni mendorong deregulasi, memperkuat kemitraan dagang, menjaga keseimbangan global, serta memastikan perlindungan untuk kelompok rentan.
“Di situlah letak kekuatan dan arah pembangunan kita. Ekonomi ini harus bergerak bersama, dari desa hingga pusat, dari bawah ke atas,” tegas Luhut.
Ia optimistis, jika seluruh elemen bekerja secara kompak dan terintegrasi, Indonesia tak hanya mampu melewati masa transisi dengan baik, tetapi juga mempercepat pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

