Inflasi Ramadan 2026 Terkendali, Pemerintah Klaim Sukses Jaga Harga Pangan

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Pemerintah mengklaim berhasil menjaga stabilitas inflasi sepanjang periode Ramadan, Idulfitri, hingga Nyepi 2026, bahkan saat tekanan permintaan biasanya melonjak tajam. Tidak hanya inflasi umum yang terkendali, sektor pangan yang selama ini dikenal paling fluktuatif juga tetap stabil tanpa jatuh ke jurang deflasi musiman.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi bulanan pada Maret 2026 tercatat sebesar 0,41 persen, turun dibandingkan Februari yang mencapai 0,68 persen. Sementara itu, inflasi sektor pangan juga melandai ke level 1,58 persen dari sebelumnya 2,50 persen, menunjukkan adanya perbaikan dalam pengendalian harga komoditas strategis.

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang juga Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, menyebut capaian ini tidak lepas dari strategi penguatan produksi dalam negeri yang terus didorong pemerintah. Menurutnya, kemandirian pangan menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas harga sekaligus mengurangi tekanan eksternal.

“Jika kita tidak menguasai urusan pangan, negara ini bisa ditekan pihak luar. Namun hari ini kita membuktikan bahwa melalui peningkatan produksi dan pengurangan impor, posisi Indonesia semakin kuat. Ketahanan pangan adalah perisai utama negara. Jika sektor ini kokoh, Indonesia tidak hanya aman secara fisik, tapi juga berdaulat penuh. Harga pangan harus terus dikawal agar tidak ada pihak yang melakukan spekulasi hingga merugikan rakyat,” ujar Amran dalam keterangan resmi, dikutip Holopis.com, Sabtu (4/4/2026).

Intervensi pemerintah juga terlihat dari distribusi bantuan pangan oleh Perum Bulog selama Maret, yang mencakup 864.041 penerima manfaat. Total distribusi mencapai 17,28 juta kilogram beras dan 3,45 juta liter minyak goreng. Selain itu, program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) mencatat realisasi penjualan beras sebesar 66,84 ribu ton, memberikan alternatif beras terjangkau di pasar.

Di sisi lain, BPS mencatat bahwa inflasi Maret masih dipengaruhi oleh komponen harga bergejolak, terutama dari komoditas seperti daging ayam ras, beras, telur ayam, cabai rawit, dan daging sapi. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan bahwa sektor ini tetap menjadi penyumbang utama inflasi.

- Advertisement -

“Inflasi di Maret 2026 sebesar 0,41 persen ini utamanya dipicu oleh kenaikan pada komponen harga bergejolak yang tercatat sebesar 1,58 persen. Sektor ini memberikan sumbangsih inflasi paling signifikan, yakni sebesar 0,27 persen,” kata Ateng.

Menariknya, tren tahunan menunjukkan perubahan pola. Dalam tiga tahun terakhir, periode setelah Idulfitri biasanya diikuti deflasi pangan. Namun pada 2026, tren tersebut berhasil dipatahkan. Inflasi pangan tetap berada di zona positif yang wajar di angka 1,58 persen, menandakan pasokan dan distribusi berjalan lebih stabil dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Secara tahunan, inflasi Maret 2026 tercatat sebesar 3,48 persen, masih berada dalam target pemerintah sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen. Angka ini juga menurun dibandingkan Februari yang mencapai 4,76 persen. Sementara itu, inflasi pangan tahunan turut melandai menjadi 4,24 persen dari sebelumnya 4,64 persen.

Capaian ini menjadi sinyal bahwa pemerintah mulai mampu mengelola momentum musiman tanpa gejolak ekstrem, menjaga keseimbangan antara ketersediaan pasokan dan stabilitas harga. Di tengah tantangan global yang belum mereda, stabilitas inflasi—terutama pangan—menjadi fondasi penting bagi ketahanan ekonomi nasional.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Khoirudin Ainun Najib
Khoirudin Ainun Najib
Tim Redaksi :

SELURUH ISI KONTEN BUKAN TANGGUNG JAWAB REDAKSI HOLOPIS.COM

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

YANG BARU