HOLOPIS.COM, Jakarta – Hitung-hitungan kebutuhan sapi ala BGN menuai sorotan tajam karena dinilai tidak masuk akal, publik geram dan netizen ramai protes keras.
Viral di media sosial platform X (Twitter), sebuah unggahan yang menyoroti perhitungan kebutuhan sapi dalam program SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) yang dikaitkan dengan Badan Gizi Nasional (BGN) memicu perdebatan luas.
Perhitungan tersebut dianggap tidak realistis, bahkan dinilai “tidak masuk akal” oleh warganet.
Kegaduhan bermula dari unggahan akun @BosPurwa yang membagikan kalkulasi kebutuhan sapi dalam skema program pemenuhan gizi.
Dalam unggahan tersebut disebutkan jika 1 SPPG membutuhkan 1 sapi dan dilakukan 4 kali dalam sebulan, maka total kebutuhan bisa mencapai ratusan ribu sapi per tahun.
Unggahan itu juga membandingkan angka tersebut dengan data stok sapi jantan siap potong nasional yang disebut hanya sekitar 396 ribu ekor per tahun berdasarkan data BPS 2025.
Dari perhitungan itu, muncul klaim bahwa kebutuhan sapi bisa melampaui kapasitas pasokan nasional.
“1 SPPG 1 sapi, 4x dalam sebulan berarti 912 ribu sapi per tahun, padahal stok sapi jantan siap potong cuma sekitar 396 ribu per tahun (BPS 2025). Angka 19 ribu sapi per hari saja sudah 2 kali konsumsi nasional.”
Cuitan itu dengan cepat menyebar luas, memicu ribuan repost, komentar, dan tanggapan dari warganet yang mempertanyakan logika perhitungannya.
Netizen Ramai Protes
Kolom balasan langsung dipenuhi reaksi keras dari pengguna X.
Banyak yang menilai perhitungan tersebut tidak realistis dan terlalu disederhanakan.
Salah satu pengguna menulis dengan nada frustrasi.
“Saya sudah di fase betul-betul menjadi gila, mau dimasukkan dari akal kepala sebelah mana pun tidak bisa masuk akal setiap membaca berita seperti ini.”
Komentar lain bahkan menyindir keras:
“Antara dibegoin atau emang dasarnya bego.”
Ada juga yang mencoba bersikap satir dengan menyebut solusi absurd:
“Sejuta sapi seminggu juga bisa. Sapi dalam bentuk kaldu sachet saja, orang Indo paling kreatif.”
Perdebatan tak berhenti pada angka karena banyak warganet kemudian mengaitkan isu ini dengan tata kelola program pangan nasional dan efektivitas perencanaan pemerintah.
Beberapa komentar menyebut bahwa jika angka tersebut benar, maka terjadi ketimpangan besar antara kebutuhan program dan ketersediaan pasokan sapi nasional.
“Pantesan Indonesia krisis sapi kalau hitungannya begini,” tulis salah satu akun.
Sementara lainnya mempertanyakan validitas data dan komunikasi publik dari lembaga terkait:
“Presiden punya intel lengkap, masa bisa dibodohin? Atau memang sistemnya yang bermasalah?”

