HOLOPIS.COM, JAKARTA – Di tengah dinamika global yang penuh tekanan, proyeksi International Monetary Fund (IMF) atas pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap menunjukkan sinyal yang positif.
Dalam laporan terbarunya, IMF memperkirakan ekonomi Indonesia akan tumbuh sebesar 5 persen pada 2026, menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu negara dengan kinerja perekonomian yang stabil di kawasan.
Angka tersebut memang sedikit lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya dalam laporan World Economic Outlook (WEO) edisi Januari 2026 yang sebesar 5,1 persen. Namun, dalam konteks global yang sedang melambat, capaian ini tetap mencerminkan daya tahan ekonomi nasional.
Tak hanya proyeksi kinerja ekonomi Tanah Air di tahun ini, IMF juga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2027 berada di level 5,1 persen. Angka tersebut mengindikasikan bahwa tren pertumbuhan Indonesia tetap berada pada jalur konsisten, meski dihadapkan pada ketidakpastian global.
Namun jika dibandingkan negara lain di Asia, proyeksi Indonesia masih tergolong kompetitif. Filipina diperkirakan tumbuh 4,1 persen, China 4,4 persen, dan Malaysia 4,7 persen. Sementara itu, India menjadi negara dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang tertinggi di kawasan, dengan proyeksi pertumbuhan mencapai 6,5 persen.
Dalam laporan WEO edisi April 2026, IMF menyoroti bahwa meningkatnya tensi geopolitik global menjadi faktor utama yang menekan perekonomian dunia. Lonjakan harga komoditas, khususnya energi dan pangan, serta meningkatnya sentimen risk-off di pasar keuangan menjadi tantangan serius bagi banyak negara.
“Negara berkembang dan pasar negara berkembang yang bergantung pada impor komoditas berisiko terdampak lebih berat, terutama karena depresiasi mata uang mereka memperburuk dampak kenaikan harga energi dan pangan. Dampak ekonomi global pada akhirnya akan sangat bergantung pada durasi, intensitas, dan cakupan konflik tersebut, yang pada dasarnya sulit diprediksi,” tulis laporan tersebut, dikutip Holopis.com, Minggu (19/4/2026).
Meski demikian, posisi Indonesia dinilai relatif lebih aman dibandingkan negara lain yang sangat bergantung pada impor komoditas. Struktur ekonomi domestik yang didukung konsumsi dalam negeri menjadi bantalan penting dalam menjaga stabilitas pertumbuhan.
Secara global, IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia melambat menjadi 3,1 persen pada 2026, turun dari realisasi 3,4 persen pada 2025. Perlambatan ini dipicu oleh gangguan rantai pasok dan konflik geopolitik yang belum mereda.
“Tanpa adanya perang, aktivitas ekonomi global tetap berada pada jalur yang stabil pada tahun 2026. Namun, prospek jangka pendek memburuk akibat gangguan yang disebabkan oleh penutupan Selat Hormuz dan serangan terhadap fasilitas produksi. Sementara itu, prospek jangka menengah tetap terbatas oleh berbagai tantangan struktural,” tulis lagi laporan IMF.

