JAKARTA – Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia ikut-ikutan menanggapi kebijakan tarif yang diberlakukan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Menteri ESDM itu mulanya menganggap, Donald Trump sengaja mengeluarkan kebijakan itu dengan harapan negara lain berbondong-bondong melakukan negosiasi.
“Karena kalau disuruh datang baik-baik, nggak mau datang. Buat dulu gerakan tambahan, habis itu orang akan datang. Kira-kira mirip-mirip itulah yang dilakukan oleh Presiden Trump sekarang. Dia buat dulu gerakan, dia suruh orang semua kompromi,” kata Bahlil dalam keterangannya pada Rabu (16/4).
Oleh karena itu, Bahlil kemudian meyakini bahwa kebijakan tersebut bukan sesuatu yang cukup serius untuk ditanggapi.
“Ini menurut saya ini hal yang biasa aja. Jangan juga ditanggapi serius, seperti dunia ini sudah mau berakhir,” klaimnya.
Bahlil kemudian mengklaim, defisit neraca perdagangan Indonesia terhadap AS tidak terlalu timpang menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS).
Oleh karenanya, Bahlil malah mengajarkan agar pemerintah tak perlu melakukan perubahan kebijakan yang signifikan untuk menghindari tarif tersebut.
“Dalam perspektif itu apa yang harus kita lakukan, Bapak-Ibu semua, pertumbuhan ekonomi yang dicanangkan oleh Bapak Presiden di atas 5%, 6, 7, bahkan 8 (persen). Sudah barang tentu harus kita merumuskan langkah-langkah strategis, taktis, dan komprehensif sebagai instrument bergerak untuk penciptaan nilai pertumbuhan. Dan salah satu diantaranya adalah hilirisasi,” jelasnya.
Ia mengatakan Golkar memainkan peran penting terkait kebijakan tersebut mengingat menteri dari Golkar bersinggungan langsung dengan kebijakan itu.
“Dan hilirisasi menjadi salah satu program utama Bapak Presiden. Nah, di sinilah Golkar memainkan peran sebagai bagian daripada pemerintah untuk bisa mengimplementasikan. Nah, hilirisasi ini bekerjasama dengan Kementerian Perindustrian. Karena begitu kami rumuskan selesai, industri-nya dibangun selesai, kami serahkan kepada Pak Agus (Menteri Perindustrian),” tutupnya.


