JAKARTA – Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Pandjaitan, mengibaratkan kondisi dunia saat ini seperti laut yang mendadak bergelombang. Ketegangan perdagangan global, terutama akibat kebijakan tarif dari Amerika Serikat, dinilainya sebagai tantangan yang perlu dihadapi dengan langkah strategis.
“Saya mengibaratkan situasi dunia saat ini seperti laut yang tiba-tiba berubah gelombangnya. Ketegangan dagang akibat kebijakan tarif resiprokal dari Amerika Serikat membuka babak baru dalam dinamika perdagangan global,” ujar Luhut dalam unggahan di akun Instagram pribadinya, Selasa (8/4).
Luhut menyampaikan, pihaknya di Dewan Ekonomi Nasional telah melakukan berbagai simulasi dan kajian untuk mencari jawaban atas satu pertanyaan penting, yakni bagaimana sebaiknya Indonesia bersikap.
Dalam hal ini, mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi itu menekankan pihaknya tak hanya melihat dari sisi angka, tetapi juga memperhitungkan dampak terhadap rakyat dan perekonomian secara menyeluruh.
“Kami tidak hanya membaca angka, tapi juga menimbang dampaknya terhadap kesejahteraan rakyat dan pertumbuhan ekonomi,” ucapnya.
Ia menambahkan, kebijakan tarif Trump akan berdampak cukup signifikan terhadap beberapa sektor padat karya. Mulai dari sektor perikanan, tekstil, elektronik, makanan olahan, hingga produk karet dan kayu.
Baginya, kebijakan Trump lebih dari sekadar angka ekspor, melainkan juga menyentuh aspek penting dalam kehidupan masyarakat.
“Ini bukan sekadar penurunan nilai ekspor, tetapi menyangkut keberlangsungan mata pencaharian jutaan pekerja,” tegasnya.
Kendati demikian, Luhut menegaskan pemerintah akan hadir untuk mendampingi sektor-sektor tersebut melewati masa sulit dan menjaga agar industri tetap kompetitif.
“Pemerintah akan hadir, memberikan dukungan di masa transisi, dan memastikan daya saing industri tetap terjaga,” ujarnya.
Tak hanya itu, ia juga mewanti-wanti soal potensi masuknya barang impor murah ke pasar dalam negeri.
“Kami juga mengantisipasi potensi membanjirnya barang impor murah ke pasar domestik dan sedang menyiapkan langkah-langkah pengamanan,” tambah Luhut.
Sebagai bagian dari langkah strategis, Indonesia akan mengirimkan delegasi lintas kementerian ke Amerika Serikat. Delegasi ini akan membawa proposal yang telah disusun untuk menjawab situasi saat ini.
“Berbekal pengalaman pertemuan dengan Presiden Donald Trump beberapa tahun yang lalu, dalam waktu dekat delegasi dari Indonesia yang terdiri dari lintas Kementerian/Lembaga terkait akan segera berangkat ke Amerika Serikat, untuk menyampaikan proposal konkret yang telah kami siapkan,” ungkapnya.
Luhut menjelaskan, proposal itu dibuat dengan tetap menjaga martabat dan kepentingan nasional Indonesia, sambil tetap membuka ruang dialog dengan AS. Ia menegaskan, Indonesia membawa semangat kolaborasi, namun tetap teguh pada sikapnya.
“Kami membawa semangat kerja sama dan posisi yang tegas dalam dinamika global yang terus bergerak. Saya belajar dari pengalaman menangani pandemi covid-19,” ucap Luhut.
Menurutnya, setiap tantangan pasti menyimpan peluang, termasuk dalam ketegangan dagang kali ini.
“Situasi ini pun tak ubahnya seperti masa itu, bahwa setiap tantangan akan membuka banyak peluang baru. Ketegangan dagang ini bisa menjadi momentum repositioning,” tambahnya.
Luhut optimistis bahwa Indonesia punya keunggulan untuk menjadi tujuan investasi baru. Sebagai solusi nyata, Ia menyebut pemerintah akan melakukan deregulasi dan memangkas biaya ekonomi tinggi dalam menghadapi gejolak yang ada saat ini.
Di akhir pernyataannya, Luhut mengajak seluruh pihak untuk bergerak bersama, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
“Kita harus kompak, bergerak cepat, sesuai arahan Presiden Prabowo secara langsung agar Indonesia mengambil posisi terbaiknya: kuat, tangguh, dan siap menghadapi dunia yang terus berubah,” tutupnya.

