10 Badak Jawa Diburu untuk Diambil Culanya, Apa yang Membuatnya Berharga?

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Di balik lebatnya hutan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Badak Jawa masih berjuang bertahan hidup. Namun, sebagian satwa yang seharusnya menjadi bagian dari populasi terakhir spesies tersebut justru mati diburu untuk diambil culanya.

Dalam siaran pers pada Juni 2026, Balai Taman Nasional Ujung Kulon menyebut 10 Badak Jawa menjadi korban perburuan liar dalam sejumlah kasus pada periode berbeda. Data tersebut disusun berdasarkan fakta hukum yang telah diuji dalam persidangan dan putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap.

Salah satu kasus melibatkan Sunendi alias Nendi Bin Karnadi yang terbukti menembak mati enam Badak Jawa sepanjang 2019 hingga 2023. Lima di antaranya merupakan badak jantan dan satu lainnya betina.

Setelah membunuh badak, Sunendi menyembelih tubuh satwa dan memotong culanya untuk dijual ke Jakarta. Ia juga terbukti mencuri kamera jebak milik TNUK yang digunakan untuk memantau keberadaan Badak Jawa. Pengadilan Negeri Pandeglang menjatuhkan hukuman 12 tahun penjara dan denda Rp100 juta kepadanya.

Perburuan lainnya dilakukan kelompok yang dipimpin Sahru. Kelompok tersebut menjalankan tujuh kali operasi perburuan pada 2018 hingga 2022. Berdasarkan rekonstruksi fakta hukum dalam perkara tersebut, sedikitnya empat Badak Jawa menjadi korban.

Kasus itu kemudian menyeret pihak yang berperan dalam perdagangan cula. Salah satunya Yogi Purwadi yang bertindak sebagai perantara dan terbukti memperniagakan sedikitnya empat cula Badak Jawa.

Rangkaian perkara tersebut memperlihatkan bahwa ancaman terhadap Badak Jawa tidak berhenti ketika satwa dibunuh. Di baliknya terdapat permintaan terhadap cula yang membuat bagian tubuh tersebut memiliki nilai di pasar ilegal.

Kenapa Cula Badak Diburu?

Bagi badak, cula memiliki fungsi penting untuk mempertahankan diri dan membantu aktivitas sehari-hari. Namun, bagi sebagian manusia, cula justru dianggap memiliki nilai pengobatan, budaya hingga sosial.

Menurut Save the Rhino International, cula badak terbuat dari keratin, protein yang juga terdapat pada rambut dan kuku manusia. Meski begitu, cula telah digunakan dalam pengobatan tradisional Tiongkok selama lebih dari 2.000 tahun berdasarkan catatan pengobatan tradisional.

Cula secara tradisional dipercaya dapat digunakan untuk mengatasi sejumlah gangguan kesehatan, seperti demam, rematik dan asam urat. Dalam sejumlah catatan pengobatan tradisional, cula juga dipercaya dapat digunakan untuk menangani kondisi lain, termasuk halusinasi, muntah, keracunan makanan hingga gangguan yang dikaitkan dengan kerasukan.

Dalam praktiknya, cula biasanya diparut atau digiling menjadi bubuk sebelum dilarutkan dalam air. Namun, berbagai kepercayaan tersebut tidak menjadi bukti bahwa cula memiliki khasiat medis yang terbukti.

Permintaan cula juga berkembang dengan alasan yang berbeda di Vietnam. Penelitian TRAFFIC menemukan bahwa cula dapat dipandang sebagai simbol status sosial dan keberhasilan. Cula juga dibeli sebagai hadiah bernilai tinggi untuk keluarga, rekan bisnis atau orang yang dianggap memiliki kedudukan tertentu.

0 Shares
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Vhina Noviyanti
Darin Brenda Iskarina
Tim Penulis & Editor
Vhina Noviyanti, Darin Brenda Iskarina

BACA LAINNYA

Holopis UMKM
DKI JAKARTA
☀️ 🌙
00:00:00
Memuat Tanggal...
MEMUAT
-
---- H
MEMUAT 00:00
-- : -- : --
Waktu Dhuha --:-- — --:--

YANG BARU