Selain Asia, cula badak memiliki sejarah perdagangan di Timur Tengah. CITES mencatat bahwa Yaman pernah menjadi salah satu tujuan utama cula badak karena bagian tersebut digunakan sebagai bahan gagang belati tradisional atau jambiya. Penggunaan serupa juga pernah ditemukan dalam skala lebih kecil di Oman dan Arab Saudi.
Berbagai bentuk permintaan tersebut kemudian bertemu dengan kelangkaan badak di alam. Kondisi itu membuat cula menjadi komoditas bernilai tinggi dan mendorong terbentuknya perdagangan ilegal yang melibatkan pemburu, perantara hingga pembeli.
Bagi Badak Jawa di TNUK, permintaan tersebut menjadi ancaman yang tidak kecil. Ketika seekor badak dibunuh hanya untuk mengambil culanya, yang hilang bukan sekadar bagian tubuh satwa, tetapi juga satu individu dari populasi Badak Jawa yang kini hanya bertahan di satu kawasan di Indonesia.




