Wamentan Tuntut Riset Pertanian Harus Jangkau Petani Muda

0 Shares

JAKARTA – Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menegaskan pentingnya menjembatani hasil riset balai-balai pertanian dengan kebutuhan wirausaha muda.

Hal itu disampaikan Sudaryono saat kunjungan kerja di Balai Perakitan dan Pengujian Tanaman Industri dan Penyegar, Sukabumi, Jawa Barat, pada Jumat (10/5).

Menurutnya, inovasi pertanian yang dihasilkan harus dapat diakses, ditiru, dan diterapkan dengan mudah oleh generasi muda yang ingin terjun ke sektor pertanian.

“Bagaimana mendekatkan penemuan, modeling dari bisnis pengolahan maupun bisnis budi daya dari agriculture kita atau pertanian kita itu bisa dicontoh, ditiru, dikopi, langsung diaplikasikan sama masyarakat,” kata Sudaryono, seperti dikutip Holopis.com di Jakarta, Sabtu (10/5).

Sudaryono menjelaskan bahwa saat ini Kementerian Pertanian memiliki 64 balai penelitian yang mencakup berbagai bidang strategis, mulai dari pembibitan, perbenihan, pascapanen, inseminasi buatan, vaksinasi, hingga pengolahan susu dan produk turunannya.

Meski begitu, ia mengakui masih ada kesenjangan antara hasil riset pertanian dengan pelaku usaha, terutama di kalangan anak muda. Banyak generasi muda yang membangun usaha pertanian hanya bermodalkan tutorial dari media sosial, tanpa fondasi riset ilmiah yang kuat.

“Jangan sampai masyarakat kita, pemuda-pemuda kita punya keinginan menggeluti dunia usaha bidang pertanian tapi modalnya nonton TikTok sama YouTube. Dia lihat tutorialnya cara bikin pakan yang benar begitu dia bikin, dia investasi, dengan knowledge tadi, ternyata gagal,” ungkapnya.

Wamentan menyoroti bahwa konten pertanian di media sosial kerap kali tidak berdasarkan bukti akademik. Karena itu, ia menilai perlu adanya jembatan antara dunia riset dan kebutuhan praktis pelaku usaha pertanian, terutama generasi muda.

Salah satu solusi yang ditawarkan adalah mengemas hasil riset dalam bentuk modul yang jelas dan aplikatif, seperti petunjuk pelaksanaan (juklak) dan petunjuk teknis (juknis), sehingga lebih mudah diikuti oleh masyarakat.

“Penelitian kita keren. Mau nanam kelapa ada penelitiannya, cokelat ada penelitiannya, mau biomassa ada penelitiannya, ada semua. Tinggal bagaimana ini dibungkus dalam sebuah modul juklak-juknis sehingga orang itu tinggal ngikutin,” ujar Sudaryono.

Ia juga menekankan pentingnya memperkuat peran penyuluh pertanian di daerah agar masyarakat bisa mengakses informasi dan teknologi pertanian berbasis riset secara langsung dan tepat sasaran.

“Jadi ini intinya sebetulnya fasilitas yang disiapkan oleh negara ada, hanya kita mesti memikirkan bagaimana orang yang mau itu bisa mendapatkan akses informasi yang tepat, yang sesuai,” tambahnya.

Sebagai upaya konkret, Kementerian Pertanian juga menjalin kerja sama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) dan sejumlah perguruan tinggi lain guna mempererat sinergi antara peneliti dan wirausahawan muda, agar hasil riset bisa langsung diaplikasikan di lapangan.

0 Shares
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Khoirudin Ainun Najib
Tim Penulis & Editor
Khoirudin Ainun Najib

BACA LAINNYA

Holopis UMKM
DKI JAKARTA
☀️ 🌙
00:00:00
Memuat Tanggal...
MEMUAT
-
---- H
MEMUAT 00:00
-- : -- : --
Waktu Dhuha --:-- — --:--

YANG BARU