Sementara melalui pelajaran fisika, peserta didik dapat memahami keteraturan alam semesta. Adapun biologi dapat menjadi sarana untuk memahami kompleksitas ciptaan Allah.
“Ketika anak belajar matematika, ia belajar tentang keteraturan, ketepatan, logika, konsistensi, dan kejujuran intelektual. Ketika anak belajar fisika, ia sedang melihat keteraturan alam semesta. Ketika anak belajar biologi, ia sedang memasuki kompleksitas ciptaan Allah,” tuturnya.
Karena itu, Syafi’i menegaskan pendidikan Islam memiliki peran untuk memastikan penguasaan pengetahuan tersebut tidak berhenti pada kemampuan akademik, tetapi juga melahirkan kesadaran moral dan tanggung jawab.
“Pendidikan Islam memastikan pengetahuan tersebut melahirkan tanggung jawab,” pungkasnya.



