Meski begitu, harga tersebut merupakan tarif dalam penawaran yang viral, bukan standar harga seluruh penyedia jasa serupa.
Di era media sosial, buku bisa menjadi bagian dari identitas digital.
Unggahan halaman penuh catatan, kutipan favorit, hingga buku dengan beragam penanda kerap digunakan untuk menunjukkan ketertarikan terhadap literasi.
Jasa joki baca buku menawarkan jalan pintas untuk memperoleh tampilan tersebut tanpa harus menjalani seluruh proses membaca sendiri.
Hal inilah yang membuat layanan tersebut memunculkan pro dan kontra.
Sebagian orang dapat melihatnya sebagai peluang bisnis bagi mereka yang memiliki keterampilan membaca dan membuat anotasi.
Namun, ada pula yang mempertanyakan manfaatnya apabila tujuan utama pelanggan hanya ingin terlihat rajin membaca.
Pasalnya, buku yang dipenuhi catatan tidak otomatis mencerminkan pemahaman pemiliknya.
Membaca juga melibatkan proses mencerna informasi, menghubungkan gagasan, dan membangun pemikiran kritis.
Anotasi dan rangkuman dari orang lain sebenarnya dapat menjadi bahan pendamping untuk memahami bacaan.
Namun, jika tujuannya memperoleh pengetahuan secara mendalam, membaca dan mengevaluasi isi buku secara mandiri tetap memiliki peran penting.
Di sisi lain, fenomena jasa joki baca buku yang viral di Threads belum cukup untuk menggambarkan tingkat minat baca masyarakat secara keseluruhan.
Ramainya perbincangan mengenai sebuah layanan tidak otomatis membuktikan bahwa praktik tersebut digunakan secara luas.



