MALANG, HOLOPIS.COM – Kisah seorang anak yang menyerahkan ibu kandungnya yang tengah terbaring karena stroke ke Griya Lansia Malang menjadi perhatian publik. Keputusan tersebut diambil dengan alasan sang anak memiliki kesibukan dan tidak lagi mampu merawat ibunya.
Ketua Yayasan Griya Lansia Malang, Arief Camra, mengungkapkan kisah tersebut melalui pernyataannya. Ia mengatakan, proses penyerahan dilakukan secara terbuka dan disertai surat pernyataan yang ditandatangani anak kandung tersebut.
Arief menyebut, dirinya bahkan berulang kali memastikan keputusan tersebut sebelum membubuhkan tanda tangan sebagai pihak penerima.
“Di depan ibu kandungnya yang terbaring karena stroke, seorang anak kandung menyerahkan ibunya ke saya (mewakili Griya Lansia),” kata Arief dalam keterangannya seperti dikutip Holopis.com, Rabu (16/9/2026).
“Sebelum membubuhkan tanda tangan, saya tanya berulang-ulang, apakah proses ini dilanjutkan, atau dibatalkan?” lanjutnya.
Menurut Arief, ia sengaja memberikan kesempatan kepada sang anak untuk berpikir ulang. Sebab, konsekuensi dari penyerahan tersebut adalah sang anak tidak lagi diperbolehkan menemui ibunya.
“Sebab, kalau dilanjutkan, anda tidak akan diizinkan ketemu dengan ibunda lagi. Syarat yang berat ini, saya tetapkan agar anda berpikir ulang. Agar membatalkan serah terima ini dan tetap merawat ibunda,” ujarnya.
Namun, Arief mengatakan sang anak tetap memilih menyerahkan ibunya dan menyatakan bersedia tidak bertemu lagi dengan sang ibu.
Griya Lansia Bukan Tempat Penitipan Orang Tua
Arief menegaskan, Griya Lansia Malang pada dasarnya bukan tempat untuk menitipkan orang tua karena anak tidak ingin atau tidak mampu merawatnya.
“Kawan, Griya Lansia itu bukan penitipan orang tua kandung. Tapi, kalau memang si anak ingin membuang ibunya secara total, atas nama kemanusiaan kami menerimanya,” kata Arief.
Ia menambahkan, larangan menjenguk diberlakukan sebagai bagian dari kesepakatan dalam proses penyerahan tersebut.
“Tapi, si anak saya larang total untuk menjenguknya lagi, bahkan sampai meninggal,” tegasnya.
Arief kemudian menggambarkan suasana saat penyerahan tersebut terjadi. Di mana sang anak bernama Naryo membubuhkan tanda tangan “pembuangan ibu kandungnya sendiri” bernama Dwi Indriyani.
“Malam ini, langit gelap bergelayut di atas bumi Ngawi. Seorang ibu dibuang anaknya sendiri, ke Griya Lansia,” tulisnya.



