Tren JOMO Gen Z, Bahagia Tanpa FOMO dan Media Sosial

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Kehidupan generasi muda di era digital selama satu dekade terakhir selalu diidentikkan dengan FOMO (Fear of Missing Out), yaitu perasaan cemas dan takut ketinggalan informasi, tren terbaru, atau momen seru yang diunggah teman-teman di media sosial.

Perasaan tersebut kerap memicu siklus scrolling tanpa henti yang menguras waktu dan energi mental. Namun belakangan, lanskap psikologis Gen Z dan milenial muda mengalami pergeseran signifikan dengan lahirnya tren JOMO atau Joy of Missing Out.

Berbeda dengan FOMO yang memicu kecemasan dan rasa iri, JOMO justru merayakan seni membatasi diri secara sadar dari hiruk-pikuk dunia digital. Tren ini mengajarkan anak muda untuk tidak merasa bersalah saat memilih absen dari agenda nongkrong atau mengabaikan konten viral di media sosial.

JOMO menggantikan rasa cemas dengan kebahagiaan karena memiliki kendali penuh atas waktu dan perhatian mereka. Ini adalah deklarasi kemerdekaan dari tirani notifikasi.

Berdasarkan laporan terbaru dari Mindscape Mental Health Institute (2025) yang melibatkan 5.000 responden berusia 18-26 tahun, sebanyak 42 persen responden Gen Z kini lebih aktif menerapkan batasan waktu layar dan memilih aktivitas mandiri secara offline demi menjaga stabilitas emosional serta meningkatkan kualitas tidur. Data ini menunjukkan bahwa anak muda mulai sadar akan bahaya digital burnout.

Mengapa JOMO bisa membuat hidup lebih bahagia? Berikut tiga fakta penting di balik fenomena ini:

Terbebas Tekanan Validasi Sosial

Di era FOMO, setiap unggahan foto liburan atau pencapaian teman seringkali memicu perbandingan sosial yang tidak sehat. Penganut JOMO tidak lagi menggantungkan kebahagiaan pada jumlah likes, komentar, atau pengakuan di media sosial.

Mereka merasa cukup dengan realitas yang mereka jalani, tanpa harus mengemasnya menjadi konten instagramable. Hal ini secara drastis menurunkan tingkat kecemasan sosial.

Optimalisasi Waktu

Dalam budaya FOMO, rebahan atau tidur siang sering dianggap sebagai kemalasan. Namun dalam koridor JOMO, istirahat dipandang sebagai aktivitas fungsional yang sangat vital.

Dengan mengurangi waktu scrolling, mereka memiliki lebih banyak waktu untuk membaca buku, belajar keterampilan baru, atau sekadar menikmati secangkir kopi dalam diam. Waktu yang “hilang” dari media sosial justru kembali sebagai energi positif untuk pengembangan diri.

Membangun Hubungan Sosial Lebih Intim

- Advertisement -
Google News

Jadikan Holopis.com sebagai sumber utama pilihanmu di Google untuk mendapatkan berita terbaru dan informasi aktual.

Tambahkan Sekarang
Khoirudin Ainun Najib
Tim Penulis & Editor
Khoirudin Ainun Najib
0 Shares
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Holopis UMKM
DKI JAKARTA
☀️ 🌙
00:00:00
Memuat Tanggal...
MEMUAT
-
---- H
MEMUAT 00:00
-- : -- : --
Waktu Dhuha --:-- — --:--

YANG BARU