Selat Hormuz Memanas, Saudi dan Kuwait Siap Longgarkan Akses Militer AS

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Arab Saudi dan Kuwait dilaporkan mulai melonggarkan pembatasan terhadap penggunaan pangkalan militer dan wilayah udara mereka oleh Amerika Serikat (AS).

Langkah itu membuka kembali ruang gerak Washington untuk melanjutkan operasi pengamanan jalur perdagangan di Selat Hormuz yang sebelumnya sempat tertahan.

Laporan media internasional Wall Street Journal menyebut keputusan itu jadi perkembangan penting bagi strategi Presiden AS Donald Trump dalam menjaga lalu lintas pelayaran komersial di salah satu jalur energi paling vital dunia.

“Arab Saudi dan Kuwait mencabut pembatasan penggunaan pangkalan dan wilayah udara mereka oleh militer AS yang diberlakukan setelah peluncuran operasi Amerika yang bertujuan untuk membuka kembali Selat Hormuz,” demikian dilaporkan Anadolu dikutip pada Jumat, (8/5/2026).

Pemerintahan Trump sebelumnya diketahui menyiapkan operasi pengawalan laut untuk kapal-kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz dengan dukungan armada laut dan udara AS.

Namun, misi itu dilaporkan sempat dihentikan sementara setelah berjalan selama 36 jam. Penundaan itu disebut berkaitan dengan pembatasan akses militer yang diterapkan sejumlah negara Teluk terhadap Washington.

“Pemerintahan Trump sedang bersiap untuk memulai kembali operasi pengawalan angkatan laut untuk kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz dengan dukungan angkatan laut dan udara AS,” lanjut laporan Anadolu.

Kini, Pentagon disebut tengah mengevaluasi jadwal baru untuk melanjutkan operasi tersebut. Sejumlah pejabat Amerika mengisyaratkan aktivitas militer dapat dimulai kembali dalam waktu dekat.

“Para perencana Pentagon sekarang sedang menilai jadwal untuk melanjutkan operasi tersebut.”

Situasi di kawasan Teluk terus memanas sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Langkah itu memicu serangan balasan dari Teheran terhadap Israel dan sekutu-sekutu Washington di kawasan Teluk.

Konflik tersebut juga berdampak langsung pada jalur perdagangan global setelah Selat Hormuz sempat ditutup di tengah eskalasi militer.

“Ketegangan regional meningkat sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari,” tambah ulasan Anadolu.

Upaya meredakan konflik sempat dilakukan melalui mediasi Pakistan. Gencatan senjata mulai diberlakukan pada 8 April, tetapi negosiasi di Islamabad tidak menghasilkan kesepakatan permanen.

Meski begitu, Trump kemudian perpanjang gencatan senjata tanpa batas waktu tertentu.

Di tengah situasi yang belum stabil, Amerika Serikat tetap mempertahankan tekanan terhadap Iran melalui blokade laut di Selat Hormuz.

“AS telah memberlakukan blokade angkatan laut yang menargetkan lalu lintas maritim Iran di selat tersebut sejak 13 April.”

Trump juga mengumumkan bahwa militer AS untuk sementara menghentikan operasi “Project Freedom” atau “Proyek Kebebasan” yang sebelumnya dirancang untuk memulihkan kebebasan navigasi di jalur perdagangan internasional tersebut.

Namun, penghentian itu disebut hanya bersifat sementara. Sementara, blokade laut yang dilakukan AS masih tetap berlangsung.

“Trump mengumumkan pada hari Selasa bahwa militer AS akan untuk sementara menghentikan ‘Proyek Kebebasan’ untuk memulihkan kebebasan navigasi bagi pelayaran komersial melalui Selat Hormuz.”

Dengan mulai melunaknya sikap Arab Saudi dan Kuwait, Washington kini dinilai memiliki peluang lebih besar untuk mengaktifkan kembali operasi pengamanan laut di kawasan Teluk yang menjadi pusat distribusi energi dunia tersebut.

0 Shares
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Dani Yoga
Tim Penulis & Editor
Dani Yoga

BACA LAINNYA

Holopis UMKM
DKI JAKARTA
☀️ 🌙
00:00:00
Memuat Tanggal...
MEMUAT
-
---- H
MEMUAT 00:00
-- : -- : --
Waktu Dhuha --:-- — --:--

YANG BARU