HOLOPIS.COM, JAKARTA – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengimpor 3.100 ekor sapi dari Australia sebagai langkah antisipasi untuk mencegah kenaikan harga daging di tengah dampak konflik global antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat yang berpotensi mengganggu rantai pasok internasional.
Kebijakan tersebut diambil untuk menjaga stabilitas harga pangan dan daya beli masyarakat Jakarta, seiring meningkatnya tensi geopolitik global yang dikhawatirkan berdampak pada pasokan komoditas impor.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menegaskan, impor sapi merupakan bagian dari strategi Pemprov DKI dalam memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus melindungi warga dari gejolak harga akibat krisis global.
“Ini cara kita untuk supaya harga daging tidak mengalami kenaikan, dan Alhamdulillah, sampai hari ini tidak mengalami kenaikan,” ujar Pramono sebagaimana informasi yang diterima Holopis.com, Selasa, (3/3).
Impor 3.100 sapi tersebut dilakukan pada 23 Februari lalu dan menjadi bagian dari total kuota 7.500 ekor sapi yang didatangkan dari Australia. Langkah ini difokuskan untuk menjaga keseimbangan pasokan dan harga daging sapi di pasar-pasar Ibu Kota.
Selain melakukan intervensi pasar, Pramono juga mengingatkan bahwa situasi global saat ini belum sepenuhnya stabil. Konflik di Timur Tengah dinilai berpotensi menimbulkan efek domino terhadap rantai pasok kebutuhan pokok, termasuk pangan.
“Kondisi terakhir dunia sekarang ini sedang tidak baik-baik saja. Maka untuk itu, kebersamaan, gotong-royong, itu menjadi hal yang utama dalam rangka kita semua untuk menjaga Jakarta,” tegas Pramono.
Ia menambahkan, Pemprov DKI Jakarta melalui Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga telah menginstruksikan jajaran Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) untuk memetakan risiko serta menyiapkan cadangan produk strategis guna mengantisipasi kemungkinan terburuk akibat gangguan logistik global.



