Jamil menekankan omongan ‘isi tas’ yang bisa mengalahkan elektabilitas itu bisa dimaknai dalam dua kemungkinan tersebut.
“Kedua hal itu tentu dapat merusak kualitas pemilu, sekaligus merusak demokrasi. Bahkan parlemen akan kehilangan orang-orang berintegritas,” sebut Jamil
Sebelumnya, Kaesang berkelakar dengan menyinggung soal elektabilitas dan isi tas untuk Pemilu 2029. Omongan Kaesang itu disampaikan Kaesang saat memberikan arahan kepada para kader PSI di Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) di Sulawesi Tengah.
Kaesang bilang dalam melakoni persaingan di Pemilu 2029, mengandalkan elektabilitas partai saja tidak cukup.
Menurutnya, partai mesti hadir dalam menjawab keresahan dan kebutuhan masyarakat. Tapi, kata dia, urusan ‘isi tas’ itu bisa diserahkan kepada figur yang dituakan di PSI saat ini yakni Ketua Harian DPP PSI Ahmad Ali.
“Percuma juga punya elektabilitas tinggi, tapi enggak punya isi tas. Loh iya dong, masa isi tas gak punya. Kalau saya kan gak bawa tas. Yang bawa Bendum semua,” kata Kaesang.
Dia pun menyebut nama Ahmad Ali sebagai ayahanda. “Kalau ada apa-apa terkhusus ini ya terkhusus Sulawesi Tengah masalah isi tas kita ke ayahanda kita ya (Ahmad Ali),” tutur Kaesang.



