Tak hanya dugaan pelecehan, kondisi kehidupan para santri di ponpes tersebut juga ikut disorot dalam unggahan akun @azzahazzizah.
Azzah menyebut fasilitas tempat tinggal para santri berada dalam kondisi yang dinilai tidak layak.
Ia menyinggung kondisi dinding yang lembab hingga plafon yang bolong.
Para santri juga disebut harus mencari dana sendiri untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk kebutuhan makan.
“Tapi selama kurang lebih dua tahun terakhir, mereka harus mencari dana sendiri untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka,” kata Azzah.
Menurut Azzah, sebagian santri yang tinggal di ponpes tersebut berasal dari keluarga kurang mampu.
Karena fasilitas yang diberikan gratis, para orang tua disebut memilih tetap mempercayakan anak mereka kepada pihak pesantren.
Kasus dugaan pelecehan ini kemudian berkembang menjadi persoalan internal keluarga.
Azzah mengaku dirinya dan sang adik justru dituding memfitnah ayah mereka.
Keduanya disebut dituduh ingin menguasai pesantren dengan memanfaatkan sejumlah santri yang meninggalkan pondok.
Azzah membantah tudingan tersebut melalui media sosial @azzahazzizah.
Ia menyebut dari 12 santri yang meninggalkan pesantren, delapan orang disebut memang sudah merencanakan untuk pergi.
“Dari total 12 santri, ada 8 santri yang memang sudah merencanakan untuk kabur dari pesantren,” tulis Azzah dalam unggahannya.




