HOLOPIS.COM, NTT — Tari Caci, tarian perang tradisional khas suku Manggarai di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, kini menjadi salah satu atraksi wisata budaya yang paling diminati wisatawan domestik maupun mancanegara.
Tradisi pertunjukan bertarung menggunakan cambuk dan perisai ini menghadirkan pengalaman unik bagi para pelancong, memadukan unsur seni pertunjukan, keberanian fisik, serta nilai spiritualitas yang tinggi.
Seni pertunjukan yang berasal dari kawasan dataran tinggi Flores ini awalnya merupakan bagian integral dari ritual syukuran adat panen raya yang dikenal oleh masyarakat setempat sebagai upacara Penti.
Selain diselenggarakan pada musim panen, Tari Caci juga rutin dipentaskan dalam upacara penyambutan tamu kehormatan serta berbagai festival kebudayaan tahunan di Kabupaten Manggarai dan Manggarai Barat.
Atraksi budaya ini menampilkan dua pria dewasa yang saling berhadapan di tengah lapangan terbuka untuk melakukan duel ketangkasan secara bergantian sebagai penyerang dan pemertahan.
Pihak penyerang membekali diri dengan cambuk panjang berbahan kulit kerbau kering, sedangkan pihak pemertahan menggunakan perisai bundar dari kulit kerbau serta tongkat penangkis berbahan bambu.
Para penari mengenakan pakaian adat khas berupa sarung tenun Songke Manggarai yang dililitkan di pinggang hingga lutut, dipadukan dengan celana panjang putih pada bagian dalam.
Ciri khas yang paling menonjol terletak pada hiasan kepala bernama panggal, mahkota berstruktur tanduk kerbau yang melambangkan kekuatan, ketangguhan, serta penghormatan pada hewan ternak.
Langkah kaki para penari diiringi dentangan gong dan tabuhan gendang tradisional berirama cepat yang secara konstan memacu semangat para petarung di arena pertunjukan.
Di sela-sela jeda pertarungan, para penari kerap menyanyikan nyanyian adat atau pantun daerah khas Manggarai yang menambah nuansa kemeriahan di lapangan arena.
Uniknya, masyarakat setempat percaya bahwa setiap tetesan darah yang keluar akibat sabetan cambuk dalam Tari Caci bukanlah simbol permusuhan, melainkan lambang keberkahan dan kesuburan bagi bumi.
Kendati tergolong ekstrem dan menguji fisik, tarian ini memegang teguh nilai sportivitas tinggi karena kedua petarung selalu saling memeluk hangat seusai laga berakhir.
Wisatawan yang berlibur ke kawasan Labuan Bajo saat ini dapat menyaksikan pertunjukan Caci secara langsung di sejumlah desa wisata budaya, salah satunya di Desa Liang Ndara, Kampung Melo.



