HOLOPIS.COM, JAKARTA – Sekitar 20 massa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Jakarta Pusat dan Jakarta Utara mendatangi titik aksi di kawasan Silang Selatan Monas, seberang Gedung Danareksa, Jakarta Pusat, Kamis (27/8/2026). Massa tiba menggunakan sepeda motor sekitar pukul 14.55 WIB sebelum berencana melanjutkan aksi ke Gedung DPR/MPR RI.
Berdasarkan pantauan Holopis.com di lokasi, sekitar lima menit setelah tiba, massa bergerak menuju Jalan Medan Merdeka Barat dengan membawa bendera HMI, poster tuntutan, serta sejumlah spanduk. Beberapa di antaranya bertuliskan “Menolak Lupa Tragedi Agustus” dan “Evaluasi Kabinet Gemoy”.
Massa kemudian bergerak hingga mendekati kawasan Bundaran Patung Kuda. Pergerakan tersebut mendapat perhatian aparat kepolisian yang berjaga di sekitar lokasi.
Sekitar pukul 15.09 WIB, polisi meminta massa mundur lantaran posisi mereka dinilai mengganggu arus kendaraan menuju Jalan Medan Merdeka Barat.
“Mundur-mundur, pilih mundur atau kita bubarkan,” tegas salah satu petugas kepolisian, dikutip Holopis.com, Kamis (27/8).
Situasi sempat memanas hingga terjadi aksi saling dorong antara mahasiswa dan polisi. Massa menyampaikan bahwa kehadiran mereka bukan untuk mengganggu arus lalu lintas, melainkan menyampaikan aspirasi.
“Kami akan ikuti kata rekan-rekan, tapi ikuti juga perintah kami,” ujar petugas kepolisian lainnya.
Setelah mendapat arahan tersebut, massa akhirnya mundur sekitar 20 langkah dari posisi sebelumnya. Sementara itu, arus lalu lintas menuju Jalan Medan Merdeka Selatan tetap dibuka dan belum terlihat adanya penumpukan kendaraan maupun kemacetan.
Koordinator HMI Jakarta Pusat, Didi, mengatakan kedatangan mereka ke kawasan tersebut dilakukan untuk menyampaikan aspirasi kepada pemerintah.
“Kami tidak akan ke sini untuk mengganggu ketertiban jalan, kami hadir untuk menyampaikan hal-hal yang perlu diutarakan dan disampaikan,” ujar Didi.
Senada, Koordinator HMI Jakarta Utara, Saiful Bahri, menilai pemerintah perlu terus didorong agar lebih responsif dalam menangani berbagai persoalan masyarakat.
“Pemerintah saat ini seperti kuda, kuda yang harus dicambuk dulu supaya berjalan dan agar tidak tidur terus,” ujar Saiful.
Sementara itu, Ketua HMI Sekretariat Universitas Bung Karno, Fatihah, menyampaikan sejumlah tuntutan yang dibawa dalam aksi tersebut. Salah satunya seruan “Menolak Lupa Tragedi Agustus”.




