HOLOPIS.COM, JAKARTA – Bencana tanah longsor melanda sejumlah pemukiman warga yang ada di Desa Mayang, Kecamatan Cisalak, Kabupaten Subang, Jawa Barat.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan, peristiwa itu dipicu oleh hujan berintensitas tinggi yang kemudian menyebabkan tebing longsor.
“Peristiwa ini mengakibatkan 2 warga meninggal dunia akibat tertimbun material longsor, sementara 3 warga lainnya berhasil selamat,” kata Abdul Muhari dalam keterangannya yang dikutip Holopis.com, Senin (18/5).
Abdul menjelaskan, tim SAR gabungan yang melakukan upaya pencarian dan evakuasi pada hari yang sama kemudian mengevakuasi korban meninggal dunia dan mengantarkannya ke rumah duka.
Sementara itu, cuaca ekstrem melanda Kota Sukabumi, Jawa Barat pada beberapa hari yang lalu. Kejadian tersebut berdampak pada sedikitnya tujuh kelurahan di tiga kecamatan yang meliputi; Kelurahan Baros di Kecamatan Baros, Kelurahan Tipar di Kecamatan Citamiang, serta Kelurahan Dayeuhluhur, Nyomplong, Benteng, Warudoyong, dan Sukakarya di Kecamatan Warudoyong.
“12 Kepala Keluarga (KK) atau 36 jiwa terdampak akibat kejadian tersebut. Selain itu, kerugian materiil yang dilaporkan meliputi 9 unit rumah mengalami rusak sedang, 2 unit rumah rusak ringan, 3 akses jalan terdampak, serta 1 fasilitas umum turut terdampak,” terangnya.
Memasuki periode peralihan musim, peningkatan intensitas hujan di berbagai wilayah yang berpotensi memicu terjadinya bencana hidrometeorologi, khususnya banjir dan tanah longsor harus ditingkatkan. Kondisi tanah yang jenuh air di daerah lereng dan perbukitan, ditambah dengan sistem drainase yang kurang optimal, menjadi faktor yang memperbesar risiko terjadinya bencana tersebut.
Abdul mengimbau masyarakat yang tinggal di wilayah rawan bencana diimbau untuk terus memantau informasi cuaca melalui kanal resmi seperti BMKG dan BNPB, menjaga kebersihan saluran air, serta segera melakukan evakuasi mandiri apabila muncul tanda-tanda bahaya seperti retakan tanah, suara gemuruh dari arah lereng, atau kenaikan muka air sungai secara cepat.
“Pemerintah daerah juga didorong untuk memastikan sistem peringatan dini berjalan optimal, menyiapkan jalur evakuasi dan logistik darurat, serta meningkatkan sosialisasi terkait mitigasi bencana kepada masyarakat, khususnya di wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi,” pintanya.



