“Simulasi bertahan hidup, tutupin semua celah biar udara dari luar nggak masuk. Udah ngalah-ngalahin vibes film zombie,” tulis keterangan dalam unggahan tersebut.
Kondisi asap di wilayah tersebut dilaporkan mulai membaik pada Minggu, 20 September 2026, dibandingkan sehari sebelumnya.
Meski demikian, dampak karhutla masih terlihat di sekitar permukiman.
Abu sisa pembakaran dilaporkan masih menempel dan berjatuhan di sekitar rumah warga.
Kabut asap juga masih menyelimuti sejumlah wilayah di Kalimantan Tengah.
Situasi ini menjadi perhatian karena paparan asap karhutla dapat berdampak terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat, terutama sistem pernapasan.
Fenomena langit merah tersebut terjadi ketika aktivitas titik panas di Kalimantan Tengah mengalami peningkatan tajam.
Berdasarkan data hingga Jumat, 18 September 2026, jumlah titik panas di Kalimantan Tengah melonjak dari 61 menjadi 166 titik.
Angka tersebut menjadikan Kalimantan Tengah sebagai provinsi dengan indikasi karhutla tertinggi secara nasional pada periode tersebut.
Secara keseluruhan, data Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kementerian Kehutanan yang bersumber dari pemantauan satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 mencatat terdapat 546 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di Indonesia.
Jumlah itu meningkat dibandingkan sehari sebelumnya yang tercatat sebanyak 475 titik.
Lonjakan titik panas tersebut menjadi gambaran bahwa ancaman karhutla masih perlu diwaspadai, khususnya di wilayah yang mengalami peningkatan aktivitas kebakaran dan kepungan asap.
Bagi warga yang berada di sekitar wilayah terdampak, perubahan kondisi udara dan jarak pandang menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan.




