Azhary juga mengapresiasi pemerintah dan perbankan yang terlibat dalam program tersebut.
“Saya berterima kasih dan saya bangga banget dengan pemerintah saat ini. Pak Presiden, Pak Menteri, termasuk bank-bank penyalur ya. Kolaborasi itu sangat luar biasa dan nyata saya rasakan saat ini,” pungkasnya.
Pemerintah naikkan plafon
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait mengatakan pemerintah ingin setiap program yang dijalankan memberikan dampak yang benar-benar terasa.
Menurutnya, KPP bukan hanya berkaitan dengan pembiayaan developer kecil. Program tersebut juga diharapkan memunculkan efek berganda bagi sektor lain sekaligus membuka lapangan pekerjaan.
“Saya tidak mau memaksakan program yang tidak ada gunanya, karena menghabiskan waktu dan uang negara. Kita harus membuat program-program yang bermanfaat bagi Republik ini, bagi rakyat ini,” kata Maruarar.
Berdasarkan data Kementerian PKP, realisasi penyaluran KPP pada periode 1 Januari hingga 8 September 2026 telah mencapai 65,24 persen dari Rencana Target Penyaluran (RTP) 2026 yang nilainya sekitar Rp38,1 triliun.
Melihat respons tersebut, pemerintah kemudian menaikkan plafon KPP 2026.
Semula, plafon program tersebut ditetapkan sebesar Rp36 triliun. Kini angkanya dinaikkan menjadi Rp50 triliun.
“Makanya kuotanya dinaikkan dari Rp36 triliun menjadi Rp50 triliun. Kalau enggak, ngapain dinaikkan kuotanya? Karena sangat berhasil. Nah inilah karya dari Bapak Presiden Prabowo di bidang perumahan, yang bisa menggerakkan ekonomi secara luar biasa,” tegas Ara sapaan akrabnya.
Kenaikan plafon tersebut membuat ruang pembiayaan KPP menjadi lebih besar. Di sisi lain, program ini diharapkan tetap mendorong pembangunan rumah sekaligus menggerakkan sektor tenaga kerja dan usaha yang ikut bergantung pada industri properti.



