HOLOPIS.COM, JAKARTA – Aktivis asal Aljazair, Muhammed Harkati, menceritakan pengalaman yang dialaminya setelah armada Global Sumud Flotilla dicegat dan ditahan pasukan Israel di perairan internasional. Insiden mencekam itu dialami para aktivis pro Palestina saat menjalankan misi kemanusiaan menuju Jalur Gaza.
Harkati merupakan salah satu peserta armada bantuan yang berangkat dari Marmaris, Turki, pada 14 Mei 2026 dengan tujuan menembus blokade Israel di Gaza.
Setelah tiba di Istanbul bersama para relawan lain yang dibebaskan, Harkati menceritakan bahwa misi tersebut sepenuhnya bersifat damai dan bertujuan membantu warga Palestina di Gaza.
“Itu adalah misi kemanusiaan dan damai. Namun, saat kami berada di perairan internasional, kami diserang dan diculik. Setelah itu, kami ditahan di penjara,” kata Harkati kepada Anadolu di Bandara Istanbul, dikutip pada Jumat, (22/5/2026).
Menurutnya, para aktivis yang ditahan pertama kali dibawa ke Pelabuhan Ashdod di wilayah selatan Israel sebelum dipindahkan ke penjara.
“Dari Pelabuhan Ashdod, kami dibawa ke penjara. Di sana, kami dipukuli dan disiksa. Pemukulan dan penyiksaan yang kami alami tidak dapat dibandingkan dengan penderitaan saudara-saudara Palestina kami,” jelas Harkati.
Harkati menilai kondisi yang dialami para relawan internasional masih jauh berbeda dibanding penderitaan warga Palestina di Gaza. Ia bilang penderitaan pilu rakyat Gaza yang hidup di tengah blokade dan krisis kemanusiaan berkepanjangan.
Ia menyebut para aktivis masih mendapat dukungan dari pemerintah dan kedutaan negara masing-masing, sementara warga Palestina tidak memiliki perlindungan serupa.
Bagi dia, rakyat Palestina tak memiliki kesempatan seperti itu.
“Kami bisa makan dan minum, tetapi mereka tidak bisa. Jadi kita tidak bisa mengatakan mereka hidup seperti kita. Ada perbedaan besar antara kita dan mereka,” tambahnya.
Harkati juga mengungkap perlakuan yang diterima selama proses interogasi di Israel. Ia mengaku para aktivis diikat dengan sangat erat dan mendapat kekerasan fisik saat dipindahkan dari satu ruang pemeriksaan ke ruang lainnya.
“Selama interogasi, mereka mengikat kami dengan erat. Tentara yang membawa kami dari satu ruangan ke ruangan lain juga memukuli kami,” katanya.
Ia menambahkan aparat Israel menggunakan borgol plastik dan baja selama masa penahanan.
Kesaksian serupa juga disampaikan aktivis hak asasi manusia asal Mauritania, Muhammed Baba. Ia mengaku menjadi sasaran serangan anjing penjaga sebelum dibawa ke penjara.
“Mereka melepaskan anjing penjaga ke arah saya. Anjing itu menyoron ke dada dan wajah saya dengan moncongnya. Serangan ini terjadi tepat sebelum kami dibawa ke penjara,” kata Baba.
Menurut Baba, tindakan tersebut dilakukan aparat keamanan Israel setelah melihat para aktivis tidak menunjukkan rasa takut.
“Mereka melakukan ini ketika mereka melihat bahwa kami tidak takut kepada mereka,” katanya.
Sebelumnya, pada 18 Mei 2026, militer Israel mencegat armada berisi 50 kapal yang membawa 428 aktivis dari 44 negara di perairan internasional saat menuju Gaza.
Seluruh peserta kemudian ditahan dan dibawa ke Pelabuhan Ashdod sebelum dipindahkan ke Penjara Ketziot di Gurun Negev. Di antara para relawan yang ditahan terdapat 78 peserta asal Turki.




