“Begitu juga dengan metode pembelajaran, dan fasilitas keagamaan yang ramah disabilitas,” tegas Nasaruddin.
Arah ketiga berkaitan dengan teknologi. Generasi Qurani diharapkan mampu mengikuti perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Teknologi dapat dimanfaatkan untuk memperluas pendidikan, dakwah, dan akses pengetahuan.
Namun, pemanfaatannya tetap harus dibarengi integritas serta landasan moral.
Nasaruddin juga mengingatkan adanya risiko disinformasi, manipulasi, penyalahgunaan data, hingga ujaran kebencian di ruang digital.
Sementara arah keempat menyangkut dampak ekonomi penyelenggaraan MTQ.
Kegiatan tersebut dinilai dapat ikut menggerakkan berbagai sektor ekonomi masyarakat.
Mulai dari perhotelan, transportasi, kuliner, perdagangan, UMKM, hingga industri kreatif dapat memperoleh dampak dari penyelenggaraan acara berskala nasional tersebut.
Besarnya dampak ekonomi MTQ Nasional XXXI turut terlihat dari perputaran ekonomi selama acara berlangsung.
Berdasarkan perhitungan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Badan Pusat Statistik (BPS) yang disampaikan saat penutupan, perputaran ekonomi selama MTQ Nasional XXXI diperkirakan mencapai Rp1,2 triliun.
Nasaruddin menyebut angka tersebut menunjukkan bahwa syiar Al-Qur’an dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
“Ini menunjukkan bahwa syiar Al-Qur’an berjalan beriringan dengan pemberdayaan ekonomi rakyat dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Pemerintah Kota Semarang, serta seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan MTQ Nasional XXXI.



