HOLOPIS.COM, JAKARTA – Negosiasi gencatan senjata antara Hamas dan Israel memasuki hari kedua di Sharm el-Sheikh, Mesir, pada Selasa (7/10/2025). Fokus inti pembicaraan pertukaran sandera-tawanan, akses bantuan kemanusiaan ke Gaza, dan masa depan pemerintahan Jalur Gaza.
Dikutip Holopis.com dari Antara, Rabu (8/10/2025) Hamas menegaskan bahwa tanpa jaminan dari Amerika Serikat (AS) dan Israel untuk menghentikan perang secara permanen, mereka sulit menyetujui kesepakatan.
Mediator utama adalah Mesir dan Qatar, yang mencoba menjembatani kepentingan kedua belah pihak.
Diskusi hari kedua difokuskan pada tiga isu krusial:
(1) pertukaran sandera dan tahanan;
(2) pengiriman bantuan kemanusiaan ke Gaza yang sangat dibutuhkan;
(3) pengalihan pengelolaan pemerintahan di Jalur Gaza.
Hamas menyatakan bahwa mereka hanya akan mulai mengumpulkan sandera Israel setelah serangan militer berhenti, karena konflik yang masih berjalan menghalangi akses ke terowongan dan lokasi lain.
Di antara tuntutan Hamas ialah pembebasan tokoh Palestina Marwan Barghouti sebagai bagian dari paket pertukaran tahanan.
Sementara itu, Hamas menolak kehadiran pasukan asing di Gaza, meski terbuka terhadap pasukan Arab yang beroperasi bersama Otoritas Palestina.
Hamas juga menolak usulan agar mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair memimpin pemerintahan pascaperang.
Pihak Israel menegaskan bahwa perang baru bisa berhenti jika seluruh sandera dikembalikan dan Hamas dibongkar.
Satu poin penting saat ini Israel meyakini masih ada 48 sandera di Gaza, dan sekitar 20 orang diyakini masih hidup.
Namun, perundingan berjalan di bawah bayang-bayang kekerasan yang masih berlangsung. Serangan udara Israel terus menggempur Gaza, menambah jumlah korban dan memperburuk krisis kemanusiaan.
Dengan kondisi darurat di Gaza dan tekanan internasional yang meningkat, jalan menuju perdamaian masih penuh rintangan.
Apakah perundingan ini bisa menghasilkan instrumen gencatan senjata permanen atau hanya kesepakatan sementara yang jadi langkah kecil menuju penghentian konflik? Semua mata kini tertuju ke Sharm el-Sheikh.



