Di sisi lain, Adi menyoroti elektabilitas Gibran yang menurut penilaiannya belum cukup menonjol.
Ia juga menyinggung posisi Gibran yang tidak memiliki partai politik sendiri sebagai salah satu tantangan dalam membangun dukungan politik.
“Sementara pada saat bersamaan Gibran selain elektabilitasnya tak mentereng plus tak punya partai. Bagi Golkar sepertinya tak rasional usung Gibran lagi,” ujarnya.
Meski begitu, pernyataan Adi merupakan analisis politik, bukan keputusan resmi Golkar untuk menolak Gibran.
Belum diumumkannya nama cawapres juga tidak serta-merta membuktikan bahwa peluang Wakil Presiden tersebut sudah tertutup.
Direktur Eksekutif Trias Politika, Agung Baskoro, turut menyoroti arah dukungan partai-partai dalam pemerintahan Prabowo.
Menurut Agung, koalisi saat ini lebih berorientasi memastikan keberlanjutan pemerintahan hingga periode kedua.
Adapun sosok yang akan mendampingi Prabowo masih belum diketahui secara pasti.
Ia menilai dukungan Golkar terhadap Prabowo perlu dipahami sebagai sikap partai dalam menjaga posisinya di koalisi pemerintahan.
Golkar sendiri memiliki perwakilan di kabinet, di antaranya Airlangga Hartarto sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dan Bahlil Lahadalia sebagai Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi.
Keterlibatan kader Golkar dalam pemerintahan memperlihatkan peran partai tersebut dalam mendukung agenda Prabowo.
Karena itu, dukungan untuk pencalonan kembali Prabowo dinilai sejalan dengan posisi politik Golkar saat ini.
Agung juga berpandangan bahwa kemungkinan Gibran tidak kembali menjadi cawapres patut diperhitungkan.



