“Bagaimana kalau suara saya tidak terdengar oleh mereka karena suara bising Anda, dan mereka ada yang terluka?” lanjutnya.
Fathimah kemudian menyindir penggunaan mobil komando polisi dalam pengamanan demonstrasi.
“Kita ingin mendengar bagaimana kemampuan mereka untuk berorasi dengan mokom yang orangnya saja tidak ada itu!” katanya.
Pernyataan tersebut kembali disambut sorakan massa mahasiswa.
Puncak ketegangan terjadi ketika Fathimah secara terbuka meminta polisi, termasuk Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Reynold EP Hutagalung, tidak lagi menggunakan mobil komando dalam pengamanan aksi.
“Anda tidak perlu gunakan mokom itu!” tegas Fathimah.
Ia menilai polisi sebenarnya tidak membutuhkan mobil komando untuk mengatur personel di lapangan.
Menurutnya, aparat sudah memiliki alat komunikasi berupa handy talky (HT).
“Anda tidak perlu mokom itu untuk mengatur polisi-polisi ini. Anda sudah menggunakan HT, Anda sudah bisa berkumpul di sini semuanya dalam barisan rapi tanpa mokom,” ujarnya.
Fathimah menilai penggunaan mobil komando tersebut justru berpotensi meningkatkan ketegangan di tengah massa.
“Sehingga Anda tidak perlu mokom, karena mokom yang Anda lakukan itu hanya memprovokasi massa!” tegasnya.
Di akhir pernyataannya, Fathimah kembali menyerukan agar mahasiswa maupun aparat tidak saling memancing provokasi selama demonstrasi berlangsung.
“Saya dan mahasiswa tidak ingin ada provokasi. Oke? Jangan provokasi mereka dengan mokom Anda, apalagi dengan perkataan yang tidak penting,” pungkasnya.



