Guru juga bisa mengembangkan kembali materi tersebut sesuai kebutuhan sekolah.
Kompetisi ini dikembangkan sebagai bagian dari pendekatan Zoo Skolastik yang diterapkan Jagat Satwa Nusantara (JSN).
Konsep tersebut menempatkan lembaga konservasi sebagai ruang belajar yang terhubung dengan dunia pendidikan.
Materi yang diujikan mencakup tiga bidang utama, yakni Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS), Biodiversitas dan Konservasi, serta Pengetahuan Umum dan Kebudayaan.
Soal disusun berdasarkan tingkat pemahaman peserta.
Tak cuma menguji kemampuan mengingat informasi, peserta juga akan diajak menghubungkan konsep dan menggunakan pengetahuan untuk memahami persoalan.
Harapannya, kegiatan ini bisa mendorong rasa ingin tahu, kemampuan berpikir kritis, kerja sama, sekaligus kepedulian terhadap lingkungan.
Staff Ahli Menteri Bidang Peningkatan STEM dan Kompetensi Guru Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Maila Dinia Husni Rahiem, mengatakan pemerintah mendukung penyelenggaraan program tersebut.
Menurutnya, Cerdas Cermat Jagat Satwa Nusantara bisa menjadi sarana pembelajaran yang menggembirakan sekaligus memperkenalkan anak pada ilmu pengetahuan dan lingkungan.
“Cerdas Cermat ini juga sebuah pembelajaran yang menggembirakan. Karena anak-anak memang selain membutuhkan kolaborasi, dan kalau saya lihat cara lombanya ini ada kolaborasinya, bukan hanya kompetisi,” katanya.
Cerdas Cermat Jagat Satwa Nusantara sebelumnya telah digelar pada 2025.
Saat itu, 21 sekolah berhasil melaju ke Grand Final, terdiri dari 18 sekolah dasar dan tiga sekolah menengah pertama.
Pengalaman tersebut kemudian menjadi pijakan JSN untuk mengembangkan penyelenggaraan 2026 dengan sasaran peserta dan arah pembelajaran yang lebih terfokus.



