JAKARTA – Banjir bandang di Provinsi Guizhou China menewaskan sebanyak enam orang, pada Kamis (26/6), dimana kota Meilin jadi daerah yang paling parah terkena dampak, dengan ketinggian banjir mencapai lebih dari 4 meter atau 13 kaki, di atas batas aman.
Seorang professor dari Universitas Keuangan dan Ekonomi Barat Daya di Chengdu mengatkaan kepada media China, bahwa hal ini diakibatkan perubahan iklim yang memperparah cuaca ekstrem.
“Perubahan iklim membuat cuaca ekstrim lebih sering terjadi dan tidak dapat diprediksi,” kata Profesor di Universitas Keuangan dan Ekonomi Barat Daya di Chengduk, dikutip Holopis.com, Kamis (26/6).
Ia kemudian mengatakan bahwa wilayah di pedesaan menghadapi tantangan yang signifikan karena keterbatasan infrastruktur yang mereka miliki.
“Daerah pedesaan menghadapi tantangan yang signifikan, karena keterbatasan infrastruktur dan sumber daya,” lanjtunya.
Sebagai informasi, depresi tropis tersebut mendarat di provinsi pulau Hainan di China pada hari Kamis (26/6), dan kemudian di Guangdong di daratan utama. Badai ini kemudian membawa hujan lebih lanjut ke wilayah yang masih menderita akibat Topan Wutip dua minggu lalu.
China Sedang Melewati Cuaca Ekstrem
Saat ini, cuaca ekstrem memang sedang melanda wilayah China. Puluhan ribu orang dievakuasi minggu lalu, dan hampir 70.000 orang di China direlokasi setelah banjir besar terjadi akibat Topan Wutip.
Pihak berwenag China pun mengeluarkan peringatan merah untuk banjir bandang di enam wilayah. Menurut para ilmuwan, ini bisa jadi disebabkan karena perbuahan iklim.
Hal ini diperkirakan diperburuk oleh emisi gas rumah kaca, dan membuat fenomena cuaca ekstrim lebih sering terjadi dan lebih intens.
Kemudian, pihak berwenang di Beijing minggu ini mengeluarkan peringatan suhu panas tertinggi kedua untuk ibu kota tersebut pada salah satu hari terpanas tahun ini sejauh ini.
Sebagai informasi, tahun lalu merupakan tahun terpanas yang pernah tercatat di Tiongkok dan empat tahun terakhir merupakan tahun terhangat yang pernah ada.
Perlu dicatat Sobat Holopis, China merupakan penghasil emisi gas rumah kaca terbesar di dunia, tetapi juga merupakan pusat energi terbarukan, yang berupaya mengurangi emisi karbon dioksida hingga nol bersih pada tahun 2060.



