KARAWANG – Hujan dengan intensitas tinggi kembali menyebabkan Sungai Citarum meluap, mengakibatkan banjir di Desa Karangligar, Kecamatan Telukjambe Barat, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.
Banjir yang kerap disebut sebagai “banjir abadi” ini terjadi akibat pertemuan aliran Sungai Citarum dengan Sungai Cibe’et, yang selalu meluap saat curah hujan meningkat.
Memasuki hari ketiga banjir pada Minggu (2/3), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karawang mencatat sebanyak 1.265 jiwa dari 426 kepala keluarga harus mengungsi. Di antara mereka, terdapat 62 balita dan bayi yang membutuhkan perhatian khusus.
“Pada awalnya, warga masih bertahan di rumah masing-masing meskipun air mulai menggenangi pemukiman. Namun, ketika ketinggian air mencapai 180 cm, mereka terpaksa meninggalkan rumah dan mencari tempat yang lebih aman,” ujar Kaming, Petugas BPBD Karawang, seperti dikutip Holopis.com.
Kepala Dusun Pangasinan, Desa Karangligar, Farman menjelaskan saat ini total warga yang mengungsi mencapai 155 orang, lima di antaranya merupakan balita atau anak-anak.
“Pengungsi menurut data terakhir sampai pukul satu siang, ada 150 orang, termasuk 5 balita. Sementara ini mengungsi di 3 lokasi, kantor desa, masjid, dan rumah warga yang aman dari genangan air,” kata Farman.
Banjir kali ini terasa lebih memilukan karena terjadi di tengah bulan suci Ramadhan. Warga Karangligar harus menjalankan ibadah puasa di pengungsian dengan kondisi serba terbatas.
Dari enam tempat ibadah di desa ini, hanya satu masjid yang masih bisa digunakan untuk salat tarawih, sementara lima lainnya terendam banjir. Bahkan, untuk mencapai masjid tersebut, warga harus menggunakan perahu karet.
Meski dilanda musibah, semangat warga untuk menjalankan ibadah tidak surut. Suasana haru terasa saat anak-anak di satu-satunya masjid yang tersisa melantunkan sholawat di tengah genangan banjir.
Suara mereka menggema, menghadirkan ketenangan dan menguatkan hati para pengungsi yang tengah berjuang menghadapi ujian ini.
Hingga saat ini, tim BPBD bersama relawan terus berupaya menyalurkan bantuan bagi warga terdampak, termasuk kebutuhan makanan, obat-obatan, serta perlengkapan ibadah.
Namun, dengan kondisi banjir yang belum surut, masyarakat berharap adanya solusi jangka panjang untuk mengatasi banjir yang terus berulang di Karangligar.


