Gangguan memori dapat memiliki berbagai kemungkinan penyebab.
Di antaranya hipoksia, gangguan metabolik, kejang, infeksi berat, efek toksin, maupun gangguan neurologis lainnya.
Karena itu, riwayat kondisi pasien menjadi sangat penting.
Apakah sebelumnya mengalami muntah atau diare berat? Apakah sempat kehilangan kesadaran? Apakah kadar oksigennya turun? Apakah terjadi kejang? Apakah tekanan darah sempat turun drastis?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat membantu dokter mencari penyebab gangguan fungsi otak.
Pemeriksaan lebih lanjut juga dapat diperlukan, mulai dari pemeriksaan neurologis, pemeriksaan darah, hingga CT scan atau MRI bila dokter menilai ada indikasi.
Karenanya, kasus anak yang mengalami hilang ingatan setelah dugaan keracunan MBG karena itu membutuhkan pemeriksaan yang menyeluruh.
Secara medis, hipoksia berat memang dapat menyebabkan cedera otak dan berpotensi mengganggu fungsi memori.
Namun, hubungan tersebut tidak bisa digunakan untuk memastikan bahwa gangguan ingatan seorang pasien pasti disebabkan oleh hipoksia.
Begitu pula dengan bakteri, ditemukannya S. aureus, B. cereus, atau E. coli dalam makanan tidak otomatis membuktikan bakteri tersebut menginfeksi otak pasien.
Untuk memastikan penyebabnya, dokter perlu melihat bukti klinis dan hasil pemeriksaan pasien.
Dengan demikian, kasus gangguan ingatan setelah keracunan MBG perlu dilihat secara hati-hati.
Bukan hanya mencari bakteri penyebab keracunan, tetapi juga menelusuri apakah pasien mengalami dehidrasi berat, gangguan oksigenasi, gangguan metabolik, kejang, atau komplikasi lain yang dapat memengaruhi otak.



