HOLOPIS.COM, JAKARTA – Mimpi kuliah di luar negeri bukan lagi sekadar angan-angan bagi Fauziah Rachma Anjani, siswi kelas 12 SMAN 28 Jakarta. Program SMA Unggul Garuda Transformasi (SUGT) membuatnya mulai berani mengejar kesempatan menempuh pendidikan di kampus internasional, sesuatu yang sebelumnya terasa sulit dijangkau.
Selama ini, persoalan biaya hidup dan pendidikan menjadi pertimbangan besar bagi Fauziah. Ia juga sempat memikirkan bagaimana orang tuanya akan menerima jika dirinya harus melanjutkan pendidikan jauh dari keluarga.
Namun, kehadiran program SUGT perlahan mengubah pandangannya. Kesempatan kuliah di luar negeri yang sebelumnya terasa mustahil kini mulai terlihat lebih realistis.
Fauziah mengaku, sebelum mengenal program SMA Unggul Garuda Transformasi, dirinya tidak pernah benar-benar yakin bisa melanjutkan pendidikan ke luar negeri.
Baginya, biaya pendidikan dan kebutuhan hidup selama berada di negara lain menjadi tantangan yang tidak mudah dihadapi keluarganya.
“Hal pertama yang saya pikirin untuk berkuliah di luar negeri itu pertama living cost ya, Kak. Dari segi biaya, waduh gimana nih kalau kuliah di luar negeri, pasti butuh biaya yang besar untuk kehidupan saya ataupun pendidikan saya,” kenang Fau.
Selain masalah finansial, restu orang tua juga menjadi hal yang cukup membebani pikirannya. Ia memahami bahwa keluarganya mungkin akan merasa khawatir jika harus melepasnya menempuh pendidikan di negara yang jauh.
Karena itu, Fauziah sempat memilih jalur yang dianggap lebih realistis, yakni melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi negeri (PTN) dalam negeri. Bahkan, sejak kelas 10, ia sudah memiliki keinginan untuk masuk fakultas hukum di salah satu kampus negeri yang lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah.
Program SUGT Mengubah Pandangan
Harapan baru muncul ketika SMAN 28 Jakarta menggelar sosialisasi program SMA Unggul Garuda Transformasi. Sekolah tersebut menjadi salah satu yang mendapatkan program pengembangan pendidikan tersebut pada tahun ini.
Melalui sosialisasi itu, Fauziah mulai mengetahui bahwa kesempatan kuliah di luar negeri sebenarnya terbuka lebih luas, termasuk melalui jalur beasiswa.
Ia juga mendapatkan pemahaman bahwa pilihan pendidikan tidak harus terbatas pada perguruan tinggi di Indonesia.
“Program SUGT ini membuat (pikiran) saya terbuka bahwa kuliah tuh enggak harus di dalam negeri. Banyak kampus global di dunia yang bisa membuat saya lebih berkembang,” kata Fauziah.
Hal lain yang membuatnya semakin yakin adalah keterlibatan orang tua dalam proses sosialisasi hingga seleksi program. Dengan adanya persetujuan keluarga, kekhawatiran yang sebelumnya menghambat keinginannya mulai teratasi.
“Jadi, orang tua tuh sangat mendukung dan gembira ketika saya menentukan bahwa saya ingin berkuliah di luar negeri,” kata dia.
Puluhan Siswa Disiapkan Masuk Kampus Global
Kini, Fauziah menjadi satu dari 96 siswa SMAN 28 Jakarta yang berhasil lolos seleksi program SUGT.




💬 Diskusi Pembaca
0 KomentarMasuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan masukan!