HOLOPIS.COM, JAKARTA – Pakar Hukum Tata Negara Mahfud MD menilai persoalan korupsi di Indonesia tidak semata-mata disebabkan oleh kurangnya aturan. Menurutnya, keteladanan dan ketegasan pemimpin menjadi faktor penting dalam menentukan efektivitas pemberantasan korupsi.
Hal tersebut disampaikan Mahfud saat memberikan kuliah umum bertajuk Point of View: Pancasila dan Relasi Agama-Negara di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).
Dalam kesempatan itu, Mahfud membahas perdebatan mengenai hal yang perlu dibenahi terlebih dahulu dalam upaya memperbaiki tata kelola negara, apakah institusi atau pemimpinnya.
Menurut dia, kedua aspek tersebut sama-sama perlu diperbaiki. Institusi yang telah dirancang dengan baik tetap tidak akan berjalan efektif apabila dijalankan oleh orang yang tidak memiliki integritas.
“Keduanya harus dibenahi. Institusi yang bagus pun akan percuma kalau orang yang menjalankannya tidak baik,” ujar Mahfud di hadapan peserta kuliah umum, sebagaimana dikutip Holopis.com, Rabu (30/92026).
Mahfud juga mengingatkan bahwa perubahan terhadap UUD 1945 telah dilakukan beberapa kali dengan tujuan memperbaiki sistem dan institusi negara, termasuk untuk menghadapi berbagai persoalan tata kelola pemerintahan.
Namun, ia menilai keberadaan aturan dan perbaikan kelembagaan belum otomatis menghilangkan praktik korupsi.
Mahfud kemudian menyoroti aspek kepemimpinan sebagai bagian yang dinilai mendesak untuk diperbaiki.
Ia mengatakan Indonesia telah memiliki berbagai aturan untuk mengatur pemberantasan korupsi. Persoalannya, menurut Mahfud, terletak pada konsistensi pemimpin dalam menjalankan aturan tersebut secara tegas dan tidak pandang bulu.
“Kalau berbicara aturan, kita sudah punya semuanya. Maka dari itu, korupsi banyak terjadi karena pemimpinnya tidak tegas dan pandang bulu. Karena itu, saya percaya bahwa kuncinya ada pada kepemimpinan. Saya tidak punya teori lain,” tegasnya.
Menurut Mahfud, kepemimpinan yang efektif dalam pemberantasan korupsi tidak cukup hanya ditopang kemampuan membuat kebijakan. Pemimpin juga harus menunjukkan kejujuran, integritas, dan keteladanan dalam perilaku sehari-hari.
Ia mengaitkan pentingnya moralitas kepemimpinan tersebut dengan nilai-nilai Islam yang juga menjadi bagian dari pembahasan dalam kuliah umum.
“Bagaimana kita bisa meminta orang untuk tidak korupsi kalau pemimpinnya sendiri korupsi? Bagaimana menyuruh orang untuk lurus kalau diri sendiri tidak lurus? Moralitas itulah yang terpenting, dan moralitas itu harus tercermin pada diri pemimpin,” tegasnya.



