Ray Rangkuti Soroti Ucapan Keras Prabowo: dari ‘Ndasmu’ hingga ‘Goblok’

3 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA— Pengamat politik Ray Rangkuti menilai penggunaan kata-kata keras Presiden Prabowo Subianto saat merespons kritik publik sudah berulang kali terjadi. Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya menjadi persoalan pilihan bahasa, tetapi juga berpotensi memengaruhi keberanian masyarakat dalam menyampaikan kritik.

Ray menyebut sejumlah istilah yang pernah disampaikan Prabowo, mulai dari “ndasmu”, “Londo Ireng”, “antek-antek asing”, “suruh pergi aja ke luar negeri”, hingga pernyataan terbaru mengenai pakar yang “goblok”.

“Ya jelas itu udah berlebihan, karena bukan sekali dua kali. Saya kira udah enam kali tuh. Dari kata ‘ndasmu’, ‘Londo Ireng’, apalagi tuh? ‘Antek-antek asing’, ‘suruh pergi aja ke luar negeri’, ya kan? Kemudian ini apa, ‘goblok’ itu ya. Ada satu atau dua lagi tuh yang saya lupa,” ujar Roy saat di wawancarai Holopis.com di Jakarta Pusat, Senin (21/9/2026).

Ray menilai penggunaan bahasa yang merendahkan pengkritik Prabowo tetap menjadi persoalan meskipun pemerintah tidak melakukan kriminalisasi terhadap pihak yang menyampaikan kritik.

“Pak Prabowo misalnya tidak mengkriminalisasi para pengamat gitu, tapi mengata-ngatainya dengan kata-kata yang buruk, itu pun sebetulnya satu persoalan yang sangat serius,” ujarnya.

Ray juga menilai kritik merupakan bagian dari kecerdasan masyarakat. Menurutnya, kemampuan menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah justru menjadi salah satu indikator masyarakat mampu berpikir dan menyampaikan pendapat.

“Begitu masyarakatnya cerdas, salah satu indikator orang tuh cerdas dia mampu mengemukakan kritik. Itu salah satu indikator orang tuh cerdas tuh, salah satu ya, dia mampu menjelaskan satu kritik,” kata Ray.

Ia menilai keberadaan kelompok intelektual yang masih memberikan kritik juga penting untuk mengawasi kebijakan pemerintah, terlebih di tengah kondisi oposisi politik yang dinilainya tidak banyak memberikan kontrol.

“Di tengah kosongnya oposisi saat ini, ya sebetulnya kita sangat bersyukur bahwa masih ada kaum intelektual yang mau mengoreksi kebijakan-kebijakan Pak Prabowo,” ujarnya.

Ray khawatir ruang kritik semakin menyempit apabila para intelektual justru masuk ke dalam lingkaran pemerintahan.

“Kalau misalnya para intelektualnya kesedot semua ke Istana Negara, ke Istana, gitu. Anda bisa bayangkan apa yang terjadi?” kata Ray.

Ray mengatakan penggunaan bahasa keras tersebut juga dapat menimbulkan efek terhadap keberanian pengamat dan akademisi dalam menyampaikan kritik.

“Ada, pasti ada efek ke sana. Itu yang saya sebut tadi tuh sangat disayangkan,” katanya.

3 Shares
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Nur Aisah Zamil
Redaktur
Tim Penulis & Editor
Nur Aisah Zamil, Redaktur
Redaktur
Redaktur
Administrator

BACA LAINNYA

Holopis UMKM
DKI JAKARTA
☀️ 🌙
00:00:00
Memuat Tanggal...
MEMUAT
-
---- H
MEMUAT 00:00
-- : -- : --
Waktu Dhuha --:-- — --:--

YANG BARU