JAKARTA – Gema Merdeka Goeyardi angkat bicara terkait kembali beredarnya potongan video lama yang menurutnya digunakan untuk membangun narasi seolah-olah dirinya melakukan pelecehan verbal terhadap seseorang.
Gema menyebut video tersebut merupakan rekaman pada 2021 yang kembali disebarkan dengan konteks berbeda. Ia menilai potongan video tersebut telah menghilangkan konteks pembicaraan sehingga memunculkan persepsi yang menurutnya tidak sesuai dengan kejadian sebenarnya.
“Video lama 2021 diangkat lagi, dipotong konteksnya, lalu dibangun narasi seolah saya melakukan pelecehan, dan itu hoaks!” kata Gema dalam keterangannya, Minggu (20/9/2026).
Menurut Gema, video tersebut direkam ketika dirinya sedang mengkritik praktik pompom saham yang dinilainya berpotensi merugikan masyarakat.
Ia menjelaskan, kalimat “jual diri jual martabak” yang terdengar dalam video tersebut ditujukan kepada pihak yang disebutnya sebagai penipu dan pelaku pompom saham, bukan kepada Rut Yesika Simak yang turut berada dalam video.
“Kalimat ‘jual diri jual martabak’ ditujukan kepada tukang penipu dan pom pom saham yang merugikan banyak orang, dan Bukan ditujukan kepada Rut Yesika Simak yang berada di dalam video,” ujarnya.
Gema juga menyebut Rut Yesika Simak pada 2021 telah memberikan pernyataan bahwa ucapan tersebut tidak ditujukan kepadanya, baik secara pribadi maupun profesional. Ia juga menyebut Rut menyatakan bahwa video yang beredar telah dipotong dan diedit.
Atas dasar itu, Gema meminta publik tidak mengambil kesimpulan hanya berdasarkan potongan video yang kembali beredar.
“Jadi jangan potong sebuah video, hilangkan konteksnya, lalu bangun tuduhan baru seolah-olah saya melakukan pelecehan terhadap seseorang,” tegasnya.
Gema mengatakan persoalan serupa sebenarnya pernah dihadapinya pada 2021. Ia menyebut telah menempuh jalur hukum terhadap sejumlah akun dan orang yang diduga menyebarkan versi video tersebut.
Kini, ketika potongan video lama itu kembali muncul dengan narasi yang menurutnya mencemarkan nama baik, Gema menyatakan akan mendokumentasikan penyebaran konten tersebut.
“Apabila ditemukan adanya penyebaran terkoordinasi melalui akun buzzer maupun media yang membangun narasi palsu, bukti-buktinya akan kami dokumentasikan dan dapat menjadi dasar untuk langkah hukum berikutnya,” katanya.
Meski demikian, Gema menegaskan dirinya tidak keberatan terhadap kritik. Menurutnya, perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar, tetapi kritik harus disampaikan berdasarkan fakta dan konteks yang utuh.
“Saya tidak takut dikritik. Silakan kritik ucapan saya, tindakan saya, bahkan pendapat saya. Tapi kritik dengan fakta. Jangan ubah konteks menjadi fitnah,” ujarnya.
Ia juga meminta masyarakat tidak ikut menyebarkan potongan video yang dinilainya menyesatkan. Gema mengimbau publik menyimpan bukti unggahan yang memuat tuduhan tersebut dan menggunakan mekanisme pelaporan pada platform apabila konten dinilai melanggar aturan.




