HOLOPIS.COM, JAKARTA – Maudy Ayunda masih mendapat kritik dari sejumlah netizen meski telah menyampaikan permintaan maaf terkait konten mindfulness yang sebelumnya menuai sorotan. Kritik tersebut masih terlihat di kolom komentar akun Instagram Maudy hingga Selasa (15/9) malam.
Polemik bermula dari konten Maudy bertajuk ‘Mindfulness in the Age of Bad News’ yang diunggah pada 21 Agustus 2026. Konten tersebut membahas cara tetap mengikuti perkembangan berita di tengah berbagai persoalan di Indonesia, mulai dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla), bencana gempa, hingga kebijakan dan program yang dinilai tidak tepat sasaran.
Dalam konten tersebut, Maudy membagikan pandangannya mengenai cara tetap peduli terhadap berbagai isu tanpa membuat kondisi mental menjadi kewalahan. Pembahasan itu kemudian mendapat respons dari sejumlah warganet yang menilai penyampaian Maudy kurang mempertimbangkan kondisi masyarakat yang menghadapi dampak persoalan tersebut secara langsung.
Istilah tone deaf atau dianggap kurang peka terhadap situasi pun muncul dalam kritik yang disampaikan warganet. Sorotan terutama mengarah pada pembahasan mengenai kemampuan seseorang untuk mengambil jarak dari berita ketika persoalan yang diberitakan tidak berdampak langsung terhadap kehidupannya.
Meski Maudy telah memberikan penjelasan dan meminta maaf, kritik masih berlanjut di akun Instagram miliknya. Sejumlah netizen menyoroti kembali persoalan empati serta perbedaan pengalaman antara dirinya dan masyarakat yang menghadapi persoalan secara langsung.
Salah satu netizen menilai permintaan maaf yang disampaikan Maudy belum menunjukkan empati terhadap persoalan yang menjadi sorotan. Penilaian tersebut disampaikan akun @nia95_rhyn melalui kolom komentar Instagram Maudy.
“Permintaan maaf yg tidak berempati. Hadeee,” tulis akun @nia95_rhyn, dikutip Holopis.com, Selasa (15/9/2026).
Komentar lain datang dari akun @m4tch_alateee yang meminta Maudy melihat secara langsung kondisi masyarakat di Samarinda. Ia menyinggung persoalan pemadaman listrik, ketersediaan air, antrean BBM, hingga kabut asap yang menurutnya menjadi bagian dari kondisi yang dihadapi masyarakat.
“Kak sini pindah ke samarinda yg selalu air nya mati, lampu padam berjam”, terus antri minyak (bensin) yang sampai 1 jam, kabut asap,” tulis akun @m4tch_alateee.
Sementara itu, akun @_prabouwow mengkritik sudut pandang Maudy dengan mengaitkannya dengan kondisi sosial masyarakat. Ia menilai posisi seseorang dalam lingkungan sosial tertentu dapat memengaruhi cara melihat persoalan yang dialami masyarakat.
“Orang dalam lingkaran borjuisme bakal selalu mindfull sama semua permasalahan orang orang kecil,” tulis akun @_prabouwow.
Kritik lainnya datang dari akun @barokah_ummu yang menyinggung status Maudy sebagai penerima beasiswa LPDP. Ia mengaitkan hal tersebut dengan sumber pendanaan beasiswa yang menurutnya berasal dari pajak masyarakat.
“Tone deaf nirempati dpt beasiswa LPDP jg dr pajak rakyat,” tulis akun @barokah_ummu.




