HOLOPIS.COM, JAKARTA – Nama Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa kembali menjadi sorotan setelah ikut angkat bicara mengenai polemik penjahit di Bali yang dituding melakukan tindakan rasis oleh perempuan asal Lombok bernama Hilda. Sosok yang lebih dikenal sebagai Arya Wedakarna itu menyoroti dampak persoalan tersebut terhadap keluarga pasangan penjahit.
Arya mempertanyakan nasib anak pasangan tersebut yang disebut masih bersekolah apabila usaha menjahit mereka sampai harus berhenti. Ia juga menyebut pihak keluarga penjahit memiliki hak untuk mengambil langkah hukum terkait penyebaran video yang menjadi awal polemik.
Namun demikian, banyak warganet yang tidak setuju dengan keberpihakan Arya, beberapa bahkan menyoroti sebuah video saat Arya terlihat mengintimidasi Hilda saat proses mediasi.
Dalam video singkat yang beredar, Arya Wedakarna menyampaikan sejumlah pertanyaan kepada korban, termasuk mengenai kondisi keluarga penjahit apabila usaha mereka terdampak oleh polemik yang berkembang di media sosial.
“Masalah sepele uang Rp1.000 jadi begini gitu, enggak enak sekali loh. Sekarang kamu mau diapain ibu nih di depan kamu? Sekarang depan saya sekarang gimana maunya? Ibu nih memang ibunya salah, sekarang maunya gimana, mau ditutup?” ujar Arya Wedakarna dalam video tersebut, dikutip Kamis (13/8).
Arya Wedakarna, dari Model hingga Politik
Lahir pada 23 Agustus 1980, Arya Wedakarna merupakan figur yang memiliki perjalanan karier cukup panjang. Sebelum terjun ke dunia politik, pria asal Bali tersebut pernah dikenal sebagai model, penyiar radio, pemeran, hingga penyanyi.
Saat masih muda, Arya pernah menjadi cover boy majalah Aneka. Ia kemudian melanjutkan kiprahnya di industri hiburan dengan bergabung dalam grup vokal FBI bersama Indra Bekti dan Roy Jordy.
Dari dunia hiburan, perjalanan Arya kemudian berkembang ke bidang akademik dan politik. Ia dikenal sebagai akademisi yang pernah mendapat predikat dari Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai doktor ilmu pemerintahan termuda di Indonesia ketika berusia 27 tahun.
Setahun kemudian, pada usia 28 tahun, Arya juga tercatat mendapat predikat sebagai rektor universitas termuda di Indonesia. Ia kemudian menjalankan aktivitas akademiknya sebagai Rektor Universitas Mahendradatta Bali.
Di bidang politik, Arya pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) dari daerah pemilihan Bali untuk periode 2014–2019. Ia kembali terpilih sebagai anggota DPD RI untuk periode 2019–2024 dengan perolehan 742.781 suara.
Pada Pemilu 2024, Arya kembali mendapatkan mandat sebagai anggota DPD RI. Dalam pemilihan tersebut, ia memperoleh 378.300 suara dan kembali menjadi salah satu wakil Bali di lembaga perwakilan daerah.
Di tengah perjalanan kariernya yang melintasi dunia hiburan, akademik, hingga politik, nama Arya kini kembali muncul dalam perbincangan publik setelah komentarnya terkait kasus penjahit Bali.
Dalam pernyataannya, Arya mengingatkan bahwa persoalan tersebut tidak hanya menyangkut pihak yang terlibat langsung, tetapi juga berpotensi berdampak pada keluarga penjahit. Ia mempertanyakan siapa yang akan memenuhi kebutuhan keluarga jika sumber penghasilan mereka terhenti.
Kehidupan Pribadi Arya Wedakarna
Dalam kehidupan pribadi, Arya Wedakarna menikah dengan Ida Ayu Ketut Juni Supari dari Griya Suci Dencarik Banjar Buleleng. Pernikahan keduanya digelar pada 23 Agustus 2017 di Istana Mancawarna, Tampaksiring, Gianyar, Bali.
Kini, profil Arya kembali menjadi perhatian seiring keterlibatannya dalam polemik yang ramai dibicarakan di media sosial. Sosok yang pernah dikenal sebagai model dan penyanyi tersebut kembali berada di tengah sorotan publik, kali ini melalui pernyataannya mengenai kasus yang berkembang di Bali.



