HOLOPIS.COM, JAKARTA – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai hubungan pendidikan dan kecerdasan belakangan menjadi perbincangan publik. Pengamat sekaligus praktisi pendidikan, Gema Merdeka Goeyardi, meminta masyarakat tidak terburu-buru menyimpulkan pernyataan tersebut tanpa melihat konteks utuh.
Menurut Gema, perdebatan mengenai apakah sekolah menentukan kecerdasan perlu terlebih dahulu membedakan antara kecerdasan (intelligence) dan kepintaran atau intelektualitas. Ia menjelaskan, kedua istilah tersebut memiliki makna yang berbeda.
Gema merujuk pada teori kecerdasan Raymond Cattell yang membagi kecerdasan menjadi dua bentuk utama, yakni fluid intelligence dan crystallized intelligence.
“Yang namanya kecerdasan dan kepintaran itu dua hal yang berbeda,” kata Gema dalam pernyataannya yang dikutip Holopis.com, Selasa (11/8/2026).
Ia menjelaskan, fluid intelligence berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam berpikir, memecahkan persoalan, beradaptasi, serta mengambil keputusan dalam menghadapi situasi baru. Kemampuan tersebut tidak semata-mata ditentukan oleh jenjang pendidikan formal yang ditempuh seseorang.
Menurut Gema, pendidikan tetap memberikan kontribusi terhadap kemampuan berpikir seseorang. Namun, gelar akademik maupun prestasi pendidikan tidak secara otomatis menjadi ukuran bahwa seseorang memiliki kecerdasan tinggi dalam mengambil keputusan.
“Smart itu tidak dibangun dengan Anda sekolah di kampus yang paling terbaik. Anda cum laude 4.0 pun itu tidak menjamin Anda cerdas,” ujarnya.
Bedakan Fluid dan Crystallized Intelligence
Di sisi lain, Gema Geoyardi menerangkan crystallized intelligence berkaitan dengan pengetahuan, kemampuan, dan pemahaman yang diperoleh melalui proses belajar serta pengalaman.
Kemampuan tersebut, menurut dia, sangat berkaitan dengan literasi dan pengetahuan yang telah dipelajari seseorang.
Ia memberikan contoh profesi pilot. Seseorang yang menekuni profesi tersebut membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh melalui pendidikan serta pelatihan, termasuk berbagai rating penerbangan.
“Kalau kita bicara crystallized intelligence, itu memang sebuah intelektualitas yang ada di otak kiri, bicara tentang kepintaran. Jadi kemampuan Anda berpikir sesuai dengan literasi yang Anda pelajari,” jelasnya.
Namun, kemampuan menyerap pengetahuan saja belum cukup. Dalam praktiknya, seseorang juga membutuhkan kemampuan untuk menggunakan pengetahuan tersebut ketika menghadapi persoalan baru.
Gema mencontohkan kemampuan mempelajari berbagai bidang seperti penerbangan, perdagangan maupun musik. Menurutnya, proses tersebut tidak hanya membutuhkan pengetahuan yang sudah dimiliki, tetapi juga kecerdasan untuk memahami persoalan dan menentukan pilihan.
“Decision making itu tidak hanya berlandaskan pada kecerdasan crystallized yang didapatkan dari sekolah. Kecerdasan yang bisa membuat Anda mengambil keputusan yang tepat itu yang kita sebut dengan fluid intelligence,” katanya.
Gema: Pernyataan Prabowo Jangan Dipotong dari Konteks
Gema kemudian menyinggung pernyataan Prabowo yang menjadi perdebatan. Menurutnya, ucapan tersebut perlu dilihat berdasarkan konteks ketika Presiden menyampaikannya.
Ia mengatakan, pernyataan Prabowo disampaikan ketika Presiden menghadiri peluncuran buku Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Menurut Gema, konteks pembicaraan saat itu adalah Prabowo memberikan apresiasi kepada Bahlil yang dinilai mampu menghasilkan sebuah karya meskipun latar belakang pendidikannya bukan berasal dari kampus yang selama ini dianggap bergengsi.




